Kanaya Anggia Wardana terpaksa harus menikah dengan pria yang cintanya pernah ia tolak saat masih duduk di bangku sekolah. Adalah Leonardo Cakra Barata, pemuda yang sering dibully dan diejek cupu karena berkacamata tebal yang ternyata adalah pewaris dari sebuah group perusahaan besar. Kondisi perusahaan keluarga Kanaya yang bangkrut dan kedua orangtua yang mengalami koma usai kecelakaan, memaksa Kanaya menerima perjodohannya dengan Leon. Sayangnya, Leon yang masih memendam sakit hati malah semakin membenci Kanaya oleh sebab kenyataan bahwa perempuan yang dinikahinya sudah tidak perawan lagi. Dan sejak hari itu, tidak ada kehidupan pernikahan yang indah. Hidup Kanaya terasa seperti di neraka, sebab Leon menjadi pria paling menakutkan bagi Kanaya.
Lihat lebih banyakKanaya Anggia Wardana menaruh tasnya di sofa apartemen, napasnya sedikit berat setelah seharian menghadiri rapat dan menyelesaikan presentasi penting.
Sore itu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela menyinari ruang tamu, tapi hatinya tak bisa ikut tenang. Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas air dari keran, berharap dapat menenangkan diri sejenak.
Namun ponselnya berbunyi, nada khas yang selalu membuatnya tersenyum. Hatinya pun berdegup kencang. Ia segera meraih telepon, bahagia melihat nama ayahnya muncul di layar ponsel.
“Halo, Pa…” sapanya riang.
“Tuan dan Nyonya sekarang berada di rumah sakit, Nona. Mereka mengalami kecelakaan pesawat.”
Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dada Kanaya. Gelas air jatuh dari tangannya, tumpah di lantai tanpa sempat dihiraukannya.
Lututnya lemas, dan ia terduduk di lantai, menangkup wajah, gemetar. Dunia yang ia kenal seketika runtuh.
“Bagaimana… bagaimana keadaan mereka?” suaranya bergetar, hampir tak terdengar.
“Mereka sedang ditangani tim dokter, Nona. Saya baru tiba di sini, jadi belum bisa menjelaskan detailnya. Kami masih menyelidiki penyebabnya. Dan saya baru menghubungi Nona.”
Rasa bersalah dan panik membanjiri Kanaya. Kanaya teringat dengan kedua adiknya yang sedang tinggal di luar negeri juga. Dan jika membandingkan dengan waktu di negaranya saat ini, kedua adiknya sedang tidur. Kanaya tidak ingin membangunkan mereka.
“Tolong jangan beritahu adik-adik dulu, Om. Saya akan segera pulang ke Indonesia. Om bisa bantu urus dokumennya?” katanya sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya.
“Baik, Nona. Saya akan menghubungi kembali secepatnya. Nona bersiap saja.”
Tak lama kemudian, Kanaya sudah berada di bandara, ditemani orang suruhan asisten pribadi ayahnya yang mengabari sebelumnya. Ia bergerak cepat, tapi setiap langkah terasa berat.
Dalam perjalanan menuju gerbang keberangkatan, pikirannya dipenuhi bayangan orangtuanya yang terbaring di rumah sakit dengan keadaan yang menyedihkan.
Kecelakaan pesawat tentu saja bukan kecelakaan ringan dan memberikan harapan baik pada korban sekalipun selamat.
***
Di pesawat, Kanaya duduk menatap jendela, membiarkan pikirannya melayang. Bulir air mata jatuh tanpa ia sadari. Membuat seorang pria asing yang duduk di sampingnya tersenyum lembut sambil mengulurkan sesuatu.
“Perlu sapu tangan?” tanyanya dengan suara hangat.
Kanaya menerima dengan lemah, tersenyum tipis. “Terima kasih. Maaf kalau mengganggu, baru saja mendapat kabar buruk,” katanya pelan.
“It’s okay. Kadang berbagi dengan orang asing juga bisa meringankan beban,” jawab pria itu.
Keduanya lantas berbincang cukup sering selama perjalanan yang berlangsung belasan jam itu.
Pria juga menawarkan minuman dan makanan ringan yang diterima Kanaya dengan sopan meski pikirannya masih kacau. Rasa hangat dari kebaikan asing itu sedikit menenangkan hatinya.
Pesawat pun melaju di udara, membawa Kanaya kembali ke negara asal tempat kelahiran dan orangtuanya sedang dirawat sekarang.
Dan setibanya di rumah sakit, ia segera menuju ruangan ICU, ditemani asisten pribadi ayahnya yang menunggu kedatangannya di lobi.
Kedua orangtuanya tampak terbaring di ranjang dengan kondisi tak sadarkan diri, peralatan medis berdengung di sekitar mereka. Hatinya perih melihat keadaan seperti itu.
“Pesawat mengalami masalah, harus melakukan pendaratan darurat. Belum sempat mendarat sempurna, pesawat tergelincir,” jelas asisten pribadi ayahnya.
Kanaya berdiri di samping ranjang, menatap wajah orangtua yang ia cintai. Tangannya ingin meraih mereka, tapi langkahnya terhenti oleh ketukan pintu.
Seorang pria paruh baya muncul, tampak familiar tapi tak dikenalnya. “Kamu Kanaya, benar?” tanyanya.
Untuk beberapa jenak ia tertegun sebelum akhirnya mengkonfirmasi pada asisten pribadi ayahnya yang berdiri di samping.
“Silakan masuk, Tuan,” jawab asisten pribadi ayahnya kemudian.
Pria itu menatap Kanaya serius. “Dunia kalian berubah malam ini, Kanaya. Selain kecelakaan ini, ada hal lain yang harus segera kamu ketahui. Maaf kalau waktunya seolah mendesak dan tak memberimu ruang untuk berfikir panjang.”
Kanaya menelan ludah, jantungnya berdetak cepat. “Apa maksud, Tuan?”
“Perusahaan ayahmu…” Ada jeda, raut sedih seketika meraut di wajah pria seumuran ayahnya tersebut. “…sebetulnya sudah lama mengalami masalah keuangan. Ayahmu sempat meminta saya untuk membantu. Kami bertemu beberapa hari lalu, tapi ia tidak ingin membebanimu.”
Hatinya tercekat. “Apa yang harus saya lakukan?”
Pria itu menyerahkan berkas tebal. “Baca ini. Tanda tangani jika setuju. Saya akan membantu menyelamatkan perusahaan. Tapi ada satu hal lagi…”
Kanaya menatapnya dengan bingung. “Apa itu, Tuan?”
“Kamu harus melaksanakan perjodohan yang sudah diatur ayahmu sejak lama.”
Badan Kanaya gemetar. Perjodohan? Ia menatap berkas itu lagi, jantungnya berdetak cepat. Siapa pria itu? Mengapa Papa tidak pernah memberi tahu? Dan bagaimana ia harus menghadapi kenyataan baru yang tiba-tiba ini?
Ia membuka lembar demi lembar berkas itu. Ada foto seorang pria. Hanya satu halaman tapi wajahnya tak sepenuhnya jelas. Ada catatan kecil di sisi dokumen yang menerangkan kalau pria tersebut adalah, “Calon suami Kanaya, pilihan ayah sejak lama.”
Hatinya campur aduk. Antara sedih, marah, takut, tapi juga penasaran. Dunia Kanaya yang selama ini terasa baik-baik saja seketika telah berubah dalam sekejap.
Ia menandatangani dokumen itu dengan tangan gemetar, lalu menatap pria paruh baya yang mengawasinya.
“Lakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan Papa. Tolong, Om. Kanaya akan melakukan apapun,” katanya dengan suara serak.
Pria itu mengangguk. “Om akan melakukan sebisa mungkin. Tapi ingat, ini bukan hanya tentang perusahaan, tapi hidupmu juga akan berubah. Apa kamu sudah siap?”
Kanaya menatap berkas, lalu foto samar pria itu lagi. Bayangan tentang siapa yang akan menjadi bagian hidupnya selanjutnya memenuhi pikirannya. Siapa pria itu? Bagaimana hubungannya nanti?
Dan di luar kamar, dunia tetap berjalan, tapi Kanaya merasa seakan waktu berhenti. Segala hal yang ia percayai, segala rencana hidupnya, kini terasa rapuh.
Ia menoleh ke jendela kamar rumah sakit, melihat lampu kota yang berpendar di malam hari. Pikiran tentang orangtuanya, perusahaan, dan perjodohan yang tiba-tiba muncul memenuhi kepalanya. Sebuah pertanyaan besar menghantui.
“Siapa pria yang akan menjadi bagian hidupku selanjutnya? Dan apakah aku siap menghadapi semuanya?”
Kanaya menutup mata, menarik napas panjang. Ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Kabar kecelakaan itu hanyalah awal dari badai yang lebih besar, badai yang akan mengubah kehidupannya, hatinya, dan masa depannya bahkan mungkin jiwanya di masa depan.
"Bunda tahu kesalahan Leon sulit dimaafkan. Tapi Bunda harap kalian bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik. Bagaimanapun, Bunda dan Ayah bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada kamu, Kanaya."Setelah pulang dari rumah sakit dan beristirahat beberapa hari, Kanaya akhirnya memutuskan pindah rumah.Bunda Leon mengusap ujung matanya yang basah. Ia terpaksa melepas kepergian Kanaya yang ingin memulai hidup sendiri di rumah barunya selama menunggu perceraiannya dengan Leon."Iya, Bunda. Kanaya juga minta maaf kalau selama ini Kanaya belum menjadi anak yang baik untuk Bunda dan Ayah.""Kalau perlu sesutu, jangan sungkan hubungi Ayah dan Bunda," pesan ayah Leon diangguki Kanaya.Kanaya lantas masuk ke dalam mobil. Ia diantar ke rumah kontrakan sederhana yang akan ditempatinya sementara.Meski kedua mertuanya sudah menawarkan apartemen mewah untuk Kanaya tinggali, namun Kanaya merasa lebih nyaman dengan pilihannya sendiri.Selain karena Kanaya ingin lepas dari keluarga Leo
"Kanaya?"Kanaya yang baru selesai makan siang kaget begitu melihat kehadiran sabahabat lama di ruang perawatannya.""Di? Bener itu kamu, Di?"Didi mengangguk lalu menghampiri Kanaya dan memeluknya."Kangen ih! Kamu ke mana aja, sih?""Kamu yang ke mana aja? Btw kamu kok tau aku di sini?" tanya Kanaya membuat Didi mengulum bibir resah sambil menatap Kanaya."Leon?" tebak Kanaya diangguki Didi pelan. Namun diluar dugaan Kanaya tersenyum pada sahabatnya tersebut. "Ada untungnya punya suami kaya raya.""Kanaya." Yang diucapkan Kanaya terdengar menyedihkan bagi Didi."Kamu apa kabar?" alih-alih Kanaya."Aku baik.""Datang sama siapa? Kata Clarisa kamu di Singapur. Udah nikah.""Sama Bani. Tapi dia nunggu di mobil. Soalnya anak kami masih kecil. Nggak boleh masuk rumah sakit 'kan."Kanaya melebarkan bola matanya lucu. "Bani yang dulu..."Mereka lalu tertawa hingga obrolan-obrolan masa lalu meluncur begitu saja. Membuat Kanaya terlihat lebih ceria."Nggak nyangka banget. Kalian nikah sampe
Tiba di hotel Leon segera membersihkan dirinya. Ia memilih berendam di dalam bathup guna menenangkan keresahan yang kini mulai mengganggunya setelah pertemuan dengan Didi dan Bani.Leon mulai menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya pada Kanaya. Namun, meski masalalunya terbuka kembali, Leon masih memerlukan bukti yang kuat.Ia harus balas dendam pada orang-orang yang sudah membuat ia salah sangka pada Kanaya. Batinnya bergejolak.Memikirkan Kanaya yang sedang berada di rumah sakit membuat Leon berbegas menyelesaikan mandinya dan menelepon sang Bunda."Ada apa?" suara ketus Bunda Leon membuat sang anak menghela napas pelan."Kanaya gimana kondisinya, Bund?""Perlu kamu tahu? Bukannya kamu benci sama dia?""Bund, tolong. Leon tahu Leon salah. Tapi Bunda juga nggak bisa menyalahkan Leon sepenuhnya. Semua ini salah paham.""Tapi Bunda dan Ayah tidak pernah mendidik kamu untuk menjadi laki-laki jahat sejahat apapun perlakukan orang terhadap kita. Apalagi Kanaya itu istri kamu. Dia pere
Leon tiba di Bandara Changi Air Port Singapura. Lima jam setelah pertemuannya dengan Clarisa di supermarket, sepupu dari Didi, sahabat Kanaya saat masih bersekolah. Ya, setelah berbicara di telepon melalui Clarisa, Leon bergegas menyambangi Didi yang kini tinggal di Singapura. Leon benar-benar tak sabar ingin menanyakan semua hal yang kini bergumul di dalam kepalanya. Dan demi hal itu, Leon rela meninggalkan apapun yang seharusnya ia kerjakan saat ini. Termasuk meeting pentingnya dengan seorang klien dari Jerman. “Bisa kita bertemu sekarang?” “Hah? Kamu di mana memangnya?” “Aku sudah tiba di Singapura,” terang Leon sambil berjalan menuju mobil yang menunggunya. “Arya, kamu gila?” seru Didi di seberang sambungan telepon sana. “Kita harus bertemu. Ini tentang Kanaya,” ujarnya kali ini. “Hah? Kanaya? Maksud kamu?” Sebelumnya Leon memang tidak membahas soal Kanaya saat berbicara dengan Didi. Karena itu kali ini ia menggunakan nama Kanaya agar Didi bisa segera bertemu dengannya. “
Leon baru saja menceritakan masalalu yang membuatnya sangat membenci Kanaya di hadapan kedua orangtuanya.Kanaya hanya bisa menitikkan air mata. Selama ini ia bertanya-tanya kenapa dulu Leon yang semula ia kenal sebagai Arya tega memperkosanya di gudang sekolah. Dan kini Kanaya tahu kenapa Leon sangat membencinya.Leon mengira Kanaya lah yang menjadi penyebab dari semua kesalahpahaman yang sudah berlangsung hingga belasan tahun lamanya.“Apa benar begitu Kanaya?”Kanaya menggeleng. “Apa Bunda dan Ayah ingat waktu kakek dan nenek Kanaya meninggal?”Tuan Barata, Ayah Leon lantas menatap sang istri. Mencari-cari jawaban yang tampak kesulitan untuk diingat.“Waktu Tuan Wardana meninggal, bukankah kita sedang berada di Monako, sayang?”“Ayah benar. Waktu itu bukannya Mbak Sarah sedang ulang tahu, ya? Kita mengadakan pesta di resort,” terang Bunda Leon diangguki sang suami. Lanjutnya, “Kalau tidak salah tanggal lahir Mbak Sarah…”“7 Oktober?” Kanaya lebih dulu menyela.“Bagaimana kamu tahu?
Flash back.... "Ngegambar terus, sekali-kali gambar masa depan kamu donk, Ya."Kanaya terkekeh dengan celoteh sahabatnya tersebut. "Kamu ngomong apa, sih, Di? Sana jajan ke kantin aja. Daripada ganggu aku." Didi berdecak. Namun tak bicara lagi setelahnya. Ia hanya mengamati kegiatan Kanaya yang sedang menyelesaikan desaian pakaian yang akan ia gunakan untuk mengikuti lomba. "Akhirnya!" seru Kanaya lega lalu meregangkan tangan dan badannya. "Ikut aku, yuk!" Tanpa aba-aba Didi langsung meraih tangan Kanaya dan mengajaknya keluar kelas."Eh, mau ke mana?"Didi tak menjawab. Ia bergegas membawa Kanaya dengan cepat. "Di, pelan-pelan dong!" "Duh, nanti keburu bel masuk, Kanaya.""Memang kita mau ke mana?" ulang Kanaya semakin penasaran."Nanti juga kamu tahu."Didi rupanya membawa Kanaya menuju gudang belakang sekolah. Dan di sana sudah menunggu seorang anak laki-laki yang terlihat mondar mandir resah dengan segenggam bunga daisy yang ia sembunyikan di balik punggungnya."Arya!" Did
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen