"Ada apa?"Panggilan telepon terhubung dengan cepat, terdengar suara agak tidak sabar Binsar dari ujung telepon.Menghadapi Willem, putra pecundangnya ini, Binsar memang selalu bersikap seperti ini.Beberapa waktu yang lalu, Willem sudah menimbulkan sensasi dan memprovokasi Ardika. Tidak hanya bocah sialan itu sendiri, bahkan dirinya yang sebagai ayah ini pun juga dipermalukan di hadapan Ardika. Hingga sekarang pun, amarah Binsar belum mereda.Willem mengalihkan pandangannya ke arah Ardika. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Ardika langsung merampas ponsel pria itu dan berkata dengan acuh tak acuh, "Apa kabar, Pak Binsar?""Siapa kamu? Kamu ... Ardika?"Di ujung telepon, Binsar jelas kedengaran agak panik.Namun, bagaimanapun juga dia adalah seorang tokoh hebat dunia preman yang sudah sangat berpengalaman. Tanpa butuh waktu lama, dia pun tenang kembali dan bertanya dengan dingin, "Ardika, kenapa ponsel Willem bisa ada di tanganmu?""Oh, kalau soal itu, kamu harus tanyakan pada pu
Read more