"Ardika, 'kan?"Tepat pada saat ini, seorang pengikut Kevo yang mengikuti Kevo datang ke acara lelang ini berjalan maju, lalu menunjuk Ardika dan berkata dengan nada bicara memerintah, "Eh, dengar baik-baik, nggak perlu memainkan permainan yang nggak ada artinya seperti ini. Apa kamu pikir kamu bisa menggertak Tuan Muda Kevo?""Sekarang kamu hanya punya dua pilihan. Hancurkan benda itu dengan satu ketukkan palu sekarang juga, atau berlutut di lantai dan menyerahkan Giok Katak Emas itu pada Tuan Muda Kevo.""Dengan begitu, kalau suasana hati Tuan Muda Kevo baik, mungkin saja dia akan memaafkan sikap lancangmu sebelumnya."Ardika tersenyum tipis dan berkata, "Berlutut di lantai, ya?""Percaya atau nggak, sebentar lagi kamu yang akan berlutut di lantai untuk memohon padaku?"Pengikut itu terkekeh dengan meremehkan, menatap Ardika dengan sorot mata meremehkan.Saking emosinya, Kevo juga tertawa. "Eh, Ardika, kamu menyuruh temanku untuk berlutut memohon padamu? Memangnya kamu punya hak untu
Read more