Namun, Ardika tidak merasakan apa pun. Dia tersenyum tipis dan berkata, "Bukankah Pak Jemi mengajariku untuk nggak bertindak keterlaluan, harus berbesar hati, harus belajar toleransi?""Aku ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, jadi aku ingin menguji apakah Pak Jemi bisa melakukan apa yang kamu sendiri katakan.""Yah, hasilnya adalah, aku hanya menampar Pak Jemi dengan satu tamparan saja, tapi Pak Jemi sudah ingin menghabisiku.""Ini yang kamu sebut dengan berbesar hati, menoleransi?"Ekspresi main-main menghiasi wajah Ardika, ucapannya membuat wajah Jemi langsung memerah. Dia berkata dengan emosi, "Bocah, apa identitas identitasmu? Apa identitasku?""Oh, ternyata berbesar hati dan toleransi yang Pak Jemi sebutkan itu berdasarkan identitas, ya? Lihat-lihat orang, begitu?"Ardika melontarkan kata-kata itu dengan acuh tak acuh. Tiba-tiba saja, ekspresinya berubah menjadi dingin. "Aku nggak tahu apa identitasku, tapi aku tahu kamu nggak lebih dari seekor anjing peliharaan Keluar
Read more