Kegelapan yang pekat seketika menelan seluruh area perumahan tua itu, merenggut fungsi penglihatan normal dalam sekejap mata. Namun, bagi Rani, kegelapan ini bukanlah hal baru. Ia telah menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam kegelapan spiritual setelah kematian bayinya di kehidupan pertama, sebuah fase di mana ia belajar untuk melihat bukan dengan mata, melainkan dengan memori dan insting."Rani, tetap di posisimu!" suara Eric terdengar tegas di sisi kanannya, disusul suara gesekan kain jas saat pria itu bergerak maju untuk memposisikan dirinya di depan Rani sebagai perisai alami.Namun, Rani justru melangkah ke samping, menghindari perlindungan Eric dengan gerakan yang sangat halus. "Tidak, Eric. Ini adalah panggung yang dipilih Lidia untukku. Jika kau maju, dia akan langsung menekan tombol manual tanpa memedulikan sisa waktu."Rani menyalakan senter kecil khusus dari ponsel cadangannya, mengarahkan berkas cahaya putih tajam itu langsung ke arah pintu depan rumah yang kini telah ter
Magbasa pa