Sentuhan tangan itu terasa dingin, mengirimkan gelombang horor ke seluruh saraf Rani. Namun, aroma yang tercium bukan bau gas saraf, melainkan bau rokok murahan dan alkohol yang sangat ia kenali. Rani mencoba meronta, sikutnya menghantam perut pria di belakangnya dengan sekuat tenaga."Ugh!" Pria itu terhuyung mundur.Rani segera berbalik, kayu tajam di tangannya terhunus ke depan. Di bawah sinar bulan yang temaram, ia melihat wajah yang tampak hancur, mata yang cekung, dan senyum yang miring penuh kegilaan."Ivan?" bisik Rani tak percaya.Ya, itu adalah Ivan. Namun, bukan Ivan yang gagah dengan setelan kantornya. Pria di hadapannya mengenakan baju tahanan yang kotor, ditutupi jaket parasut hitam yang kebesaran. Wajahnya dipenuhi memar, dan ada luka gores yang masih basah di pelipisnya."Bagaimana... bagaimana kau bisa di sini? Kau seharusnya di penjara!" Rani berteriak pelan, matanya melirik ke arah Erica yang kini terbaring di atas rumput di sampingnya.Ivan tertawa, sebuah suara ya
Read more