Ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin, seolah-olah oksigen telah disedot keluar secara paksa. Eric berdiri kaku, kakinya seolah tertanam di lantai marmer rumah sakit. Matanya melebar, memindai sosok pria yang berdiri di ambang pintu. Jas wol berwarna abu-abu tua, dasi sutra biru laut, dan jam tangan Patek Philippe antik yang melingkar di pergelangan tangan pria itu, semuanya adalah milik almarhum ayahnya, Alexander Utama."Ayah...?" suara Eric nyaris tidak terdengar, pecah di tengah keraguan yang luar biasa.Pria itu melangkah masuk dengan perlahan, setiap langkahnya mengeluarkan bunyi ketukan sepatu pantofel yang berwibawa di atas lantai. Pria-pria bersetelan hitam yang mengikutinya berhenti di luar pintu, menjaga akses masuk dengan ketat."Kau tumbuh menjadi pria yang tangguh, Eric. Persis seperti yang aku bayangkan saat aku meninggalkanmu di usia dua puluh lima," pria itu berbicara dengan nada suara yang dalam, bariton yang sangat akrab di telinga Eric.Ibu Eric, Nyonya Utama,
Last Updated : 2026-04-21 Read more