Atmosfer di dalam mobil mewah milik Kayn terasa begitu dingin dan mencekat, sangat kontras dengan deru mesin yang melaju mulus membelah jalanan New York malam itu. Rensra duduk santai di kursi penumpang depan, sementara Sellina menyandarkan tubuhnya di kursi belakang. Di balik kemudi, cengkeraman jemari Kayn pada setir begitu erat, matanya fokus menatap jalanan di depan meski sesekali melirik sinis ke arah kaca spion tengah. "Terima kasih sudah mau memberiku tumpangan, Kayn," suara Rensra memecah keheningan. Intonasinya begitu halus, namun sarat akan nada superioritas yang sengaja dipamerkan. "Harusnya aku menyewa limousine atau private car dari bandara tadi, tapi Sellina bersikeras bilang kalau kamu yang mau menjemput." "Tidak masalah," jawab Kayn singkat, suaranya datar bagai es. "Selagi tujuannya searah, aku merasa tidak keberatan." Sellina memajukan tubuhnya dari kursi belakang, menyandarkan dagunya di antara celah dua kursi depan, menatap Kayn dengan senyum tipis. "Kayn,
Read More