MasukBeberapa Bulan Kemudian... Waktu berlalu begitu cepat di kota New York. Bulan-bulan yang dilalui setelah badai persidangan itu terasa jauh lebih tenang dan penuh kedamaian. Hubungan Verlyn dan Kayn pun berkembang kian dekat dan hangat. Tak ada lagi kecemasan yang membayang, hanya ada momen-momen manis yang mereka lalui bersama di tengah hiruk-pikuk megah kota New York. Malam ini, Verlyn dan Kayn sudah berencana untuk makan malam berdua di sebuah restoran tenang pilihan mereka. Verlyn bahkan sudah bersiap, mengenakan gaun simpel yang anggun, menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum tipis yang mengembang penuh antisipasi. Namun, di tempat lain, saat Kayn baru saja hendak bersiap berangkat menjemput Verlyn ke kediamannya, ponsel di meja kerjanya bergetar singkat. Bzzzt. Bzzzt. Kayn merogoh ponselnya. Di layar, tertera sebuah nomor asing tanpa nama yang mengirimkan pesan singkat via aplikasi pe
Kediaman utama keluarga Alreo malam itu diselimuti suasana hangat yang sudah sangat lama hilang. Pendar lampu gantung kristal di ruang tamu utama memancarkan cahaya keemasan, menimpa tawa dan percakapan penuh keakraban yang mengalir tanpa henti.Caroline duduk bersanding rapat di samping Kaze. Wajah wanita itu kini tampak begitu segar, jernih, dan penuh kedamaian, seolah beban berat dan kabut manipulasi yang menyiksanya selama berbulan-bulan telah diangkat sepenuhnya dari pundaknya.Suasana di kediaman mewah itu semakin ramai dan meriah ketika pintu depan kembali terbuka. Khalix dan Villian melangkah masuk dengan senyum lebar, membawa suasana hangat yang langsung melengkapi kebahagiaan malam itu. Mereka berdua secara khusus datang untuk merayakan berakhirnya badai besar yang hampir menghancurkan keluarga Alreo."Wah, rasanya lega dan hangat sekali melihat ruang tamu ini kembali hidup," ujar Kaze penuh haru, berdiri merentangkan tangan untuk menyambut k
Keheningan yang lega perlahan membalut ruang sidang yang baru saja usai dari badai. Usai dekapan hangatnya bersama Kaze mereda, pandangan Caroline bergeser ke arah sudut ruangan. Matanya yang kini jernih tertuju pada satu sosok gadis muda yang masih berdiri membisu.Verlyn. Putrinya. Sosok yang paling banyak menanggung beban dan tekanan di tengah pusaran manipulasi ini.Di samping Verlyn, Kayn tetap berdiri setia bagai benteng pelindung yang tak tergoyahkan.Dengan langkah pelan dan jemari yang sedikit gemetar, Caroline berjalan mendekati Verlyn. Setiap pijakannya terasa berat oleh gejolak rasa bersalah yang membakar dada."Verlyn..." panggil Caroline, suaranya parau dan bergetar menahan tangis.Verlyn mendongak, menatap ibunya yang kini memandangnya dengan tatapan hangat yang sudah sangat lama tidak ia lihat. Tatapan seorang ibu yang benar-benar mengenalinya."I-Ibu..." desis Verlyn pelan.Tanpa sanggup menahan emosinya lagi, Caroline langsung berlutut kecil di hadapan Verlyn
Hakim wanita itu menerima map cokelat tebal yang diserahkan Verlyn atas arahan Cherryn. Jemari sang Hakim dengan cermat membuka segelnya, menarik keluar bundel berkas tebal yang memadukan rekam medis asli keluarga serta laporan investigasi finansial buatan tim Kayn dan Verlyn.Di saat Majelis Hakim sibuk memeriksa berkas, Cherryn perlahan melangkah mendekati Caroline yang duduk kaku di kursi Pemohon. Tatapan Caroline tampak sangat kosong dan sayu. Pupil matanya bergerak gelisah bagai berada di bawah pengaruh obat-obatan berat dan manipulasi psikologis bertingkat."Caroline..." panggil Cherryn lembut, suaranya sarat akan kehangatan seorang ibu.Dari balik jemarinya yang terbalut sarung tangan sutra, Nenek Cherryn mengeluarkan sebuah kalung berlian merah legendaris milik keluarga. Di tengah pendarannya yang indah, tampak retakan halus yang membelah permukaan batu permata tersebut. Meski ada cacat kecil, permata langka itu memancarkan aura kehangatan pekat yang begitu menenangkan.J
"Harap Majelis Hakim mempertimbangkan dokumen-dokumen resmi ini," ujar Pengacara Caroline dengan intonasi penuh kemenangan, mengibaskan beberapa lembar kertas berstempel resmi di udara. "Bukti medis dan sertifikat kelahiran dari klinik swasta ini secara sah membuktikan bahwa Verlyn bukanlah anak kandung Caroline, melainkan anak hasil hubungan gelap Tuan Kaze dan Nyonya Jennifer." Ia melangkah mendekati meja hakim, menyerahkan salinan dokumen tersebut dengan senyum tipis di bibirnya. "Tergugat telah memanipulasi identitas ini selama puluhan tahun demi menjaga reputasi keluarga dan menguasai aset yang seharusnya menjadi hak milik klien kami." "PERSETAN DENGAN DOKUMEN PALSU ITU!" Suara Kaze menggelegar, mengguncang dinding ruang sidang yang hening. Pria paruh baya itu berdiri mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi derit menyakitkan. Napasnya memburu hebat, dadanya naik-turun menahan murka yang membakar sampai ke ubun-ubun. "Kapan aku pernah menyentuhmu lagi
TOK! TOK! TOK! Gema ketukan palu kayu membentur meja hakim, memotong bisik-bisik tegang yang sempat memenuhi ruang sidang tertutup di New York itu. Hakim wanita senior bersetelan jubah hitam merapikan kacamata baca, menyapu pandangan dingin ke kedua belah pihak. "Sidang gugatan perceraian dan hak klaim aset antara Nyonya Caroline lawan Tuan Kaze resmi dibuka," suara Hakim menggema tegas. "Kedua belah pihak dilarang menginterupsi tanpa izin Majelis. Pengacara Pemohon, silakan sampaikan poin utama gugatan." Jennifer, yang duduk di samping Caroline, menyunggingkan senyum tipis. Ia meremas pelan tangan Caroline, menyalurkan kebohongan manis pada wanita berpikiran linglung itu. Pengacara Caroline berdiri, membungkuk hormat ke arah Hakim. "Yang Mulia," ujar pengacara itu mantap. "Klien kami, Nyonya Caroline, mengajukan gugatan cerai dan penuntutan seluruh hak aset akibat kebohongan serta pengkhianatan fatal yang dilakukan Tuan Kaze selama bertahun-tahun pernikahan mereka."
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar







