Mag-log in"Mau bertaruh?" Bagi Verlyn, perjodohan ini bukan sekadar ikatan keluarga, melainkan kesempatan untuk memiliki Kayn sepenuhnya. Meski ia tahu pria itu memiliki kekasih rahasia dan menganggapnya sebagai pengganggu, Verlyn tidak ragu melontarkan sebuah penawaran berbahaya. Sebuah taruhan sederhana dengan taruhan harga diri: Siapa yang jatuh cinta atau menyerah lebih dulu, dialah yang kalah. Sang pemenang berhak meminta apa pun, tanpa pengecualian. Kayn menerima taruhan konyol itu demi satu tujuan: membuat Verlyn menyerah dan membebaskan dirinya dari perjodohan ini. Namun, ketika garis antara pura-pura dan perasaan yang sebenarnya mulai kabur, taruhan tersebut justru menjadi jebakan bagi mereka berdua. Di tengah konspirasi keluarga, rahasia silsilah yang mengancam, dan perebutan takhta yang kian memanas, bisakah Verlyn mempertahankan raga sekaligus memenangkan hati Kayn? Atau justru Kayn yang berhasil memaksa Verlyn berlutut dalam kekalahan dan pergi selamanya? [Season 3 sudah tiba!]
view more“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika.
“Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Alih-alih marah, pria berambut cokelat dengan bola mata hijau army itu hanya menghela napas panjang. “Ini tidak buruk untukmu, Verlyn. Pikirkanlah baik-baik,” ucap Kaze menenangkan. Verlyn menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu menatap pria yang ia panggil Ayah itu dengan tajam. “Kehidupanku sudah sempurna, Ayah. Aku tidak membutuhkan pria yang bertugas memenuhi kebutuhanku kelak, karena aku bisa menghidupi diriku sendiri!” Kaze mengangguk pelan lalu duduk di kasur, tepat di sebelah Verlyn. “Tapi kamu belum pernah bertemu dengannya, kan? Bagaimana kalau kamu membuat janji temu dulu dengan Kayn?” tawarnya. Verlyn kembali menggeleng. “Tidak ada jaminan kalau aku sudah bertemu dengannya, maka aku akan menerima perjodohan ini, Ayah.” Dia menoleh ke arah lain. “Baiklah, kalau itu maumu. Ayah tidak akan memaksamu lagi. Tapi...” Kaze bangkit dan berjalan menuju pintu kamar tanpa melanjutkan kalimatnya. Verlyn menoleh cepat. “Tapi apa, Ayah?” tanyanya penasaran. Sebelum melangkah keluar, Kaze menoleh dan tersenyum kecil. “Ayah akan memindahkan status ahli waris perusahaan Kizen kepada Ace jika kamu tetap menolak perjodohan ini.” Mata Verlyn membelalak. “Apa!? Maksud Ayah—” “Tidak ada alasan bagi Ayah untuk mempertahankan posisimu itu, bukan?” potong Kaze, lalu benar-benar meninggalkan kamar Verlyn. Verlyn terdiam. Ia mengacak-acak rambutnya dan menjatuhkan diri ke kasur. ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Keinginanku untuk menjadi ahli waris tinggal sedikit lagi. Tapi… kenapa…’ “Akh!” Verlyn menghela napas, meraih ponselnya, dan melirik jam yang menunjukkan pukul 8 malam. Ia bangkit, membawa ponsel, dan melangkah keluar kamar. Ia memutuskan untuk menemui Kaze dan membicarakan soal perjodohan itu. Setelah sampai di depan ruang kerja Kaze, Verlyn mengetuk dan membuka pintu perlahan. Kaze yang sedang menatap layar laptopnya menoleh ke arah Verlyn yang mengintip dari celah pintu. Menyadari dirinya sudah terlihat, Verlyn masuk dan menutup pintu kembali. “Ayah sedang sibuk?” tanyanya. Kaze melirik layar laptop sejenak lalu bangkit dan menggeleng. “Tidak begitu sibuk. Ada apa?” Verlyn menarik napas dalam-dalam dan menatap Kaze. “Soal perjodohan tadi, aku—” “Ayah tahu.” Kaze mengambil beberapa berkas dari meja kerjanya dan menyerahkannya pada Verlyn. Verlyn menerimanya dengan ragu, lalu mulai membacanya. “Berkas ini berisi tentang perpindahan hak ahli waris perusahaan. Ayah sedang mendiskusikannya dengan para—” “Aku datang ke sini untuk mengatakan bahwa aku bersedia menerima perjodohan itu!” potong Verlyn, sedikit berteriak. “Ayah tidak pernah mengajarimu untuk memotong perkataan orang tua, Verlyn,” tegur Kaze tegas. Verlyn mengepalkan tangannya dan menunduk. “Maaf, Ayah…” Kaze menghela napas dan melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda. “Dalam diskusi tadi, para manajer dan staf tinggi di perusahaan memiliki pendapat yang beragam soal pengganti ayah. Tapi sebagian besar dari mereka lebih setuju jika kamulah yang menjadi ahli waris.” Verlyn terkejut dan mengangkat kepalanya. “B–bagaimana bisa, Ayah? Aku tidak mengerti kenapa mereka lebih memilihku.” Kaze tersenyum. “Itu karena—” Pintu ruang kerja terbuka perlahan. “Karena aku tidak mau menerima tawaran itu, Verlyn!” seru seorang pria dari balik pintu. Verlyn mengenali suara itu dan cepat-cepat membalikkan badan. Ia terkejut melihat sosok pria berseragam pilot, mengenakan celana hitam. Rambut merahnya dan bola mata hijau army—sama seperti miliknya—membuat Verlyn tak ragu lagi. Mata Verlyn berkaca-kaca. Ia berlari dan memeluk pria itu erat. “Kakak!!! Kangen banget, huhu…” isaknya. Ace tersenyum dan mengelus rambut panjang adik perempuannya yang berwarna krem. “Sudah, jangan menangis. Nanti seragam Kakak basah, loh,” canda Ace lembut. Verlyn mengangguk, melepas pelukan, lalu mengusap air mata dan hidungnya yang meler. “Kakak kapan datang? Kenapa enggak kabarin aku?” tanya Verlyn sedikit kesal. “Kakak ambil cuti seminggu untuk istirahat. Tadi baru sampai,” jawab Ace santai. “Terus, Delcina di man—” “Verlyn, Ayah ingin berbicara empat mata dulu dengan Ace. Bisa tinggalkan kami sebentar?” potong Kaze. Verlyn diam sejenak lalu mengangguk. “Iya, Ayah.” Ace kembali mengelus kepala adiknya. “Nanti lagi ya, Verlyn.” Verlyn tersenyum, mengangguk, dan meninggalkan ruang kerja Kaze. Ia merasa sedikit pusing, lalu memutuskan turun ke lantai bawah untuk menenangkan diri dengan secangkir teh hijau. Ia memilih menggunakan lift karena terlalu lelah menuruni tangga dari lantai empat ke lantai satu. Begitu lift terbuka, pandangan Verlyn tertuju pada seorang wanita berambut panjang bergelombang berwarna kuning yang sedang berbicara dengan para pelayan di dapur. “Kakak Velyn!” seru suara kecil dari arah lain. Verlyn menoleh dan melihat gadis kecil berambut merah yang diikat dua serta bermata hijau army sedang melambaikan tangan. Ia langsung mengenalinya dan berlari mendekat. “Delcina lagi main sendirian, ya?” tanya Verlyn sambil duduk di samping gadis kecil itu. Delcina mengangguk dan memberikan cupcake dengan krim stroberi di atasnya. Verlyn terharu dan menerimanya senang. “Terima kasih! Delcina tahu aja kalau Kak Verlyn suka stroberi,” ucap Verlyn bahagia. Ia melahap cupcake itu dengan semangat, namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya. “Verlyn!” panggil seorang wanita dari belakang. Verlyn menoleh dan tersenyum. “Kak Selvania!” Verlyn dan Selvania berpelukan lalu mulai bertanya kabar satu sama lain. Wanita itu adalah istri Ace sekaligus teman curhat Verlyn yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Di tengah obrolan hangat, Selvania membuka topik serius. “Verlyn, apa kamu benar-benar sanggup menerima perjodohan dari Ayah?” *** Sementara itu, di ruang kerja Kaze... “Ayah sudah mempertimbangkan perjodohan ini dan mendiskusikannya dengan Verlyn?” tanya Ace, membuka pembicaraan. Kaze mengangguk pelan. “Ini yang terbaik untuknya.” Ace terdiam. “Tanpa cinta yang tulus, bukankah hubungan tidak akan bertahan lama? Ayah sendiri yang mengajarkan itu kepadaku.” Kaze kembali mengangguk, lalu tersenyum samar—senyum yang tidak bisa dimengerti Ace. “Karena itulah Ayah menjodohkannya.” Pintu tiba-tiba terbuka perlahan. Verlyn berdiri di baliknya. “Apa yang tidak akan bertahan lama, Kak?”Fayyara yang berada di samping Verlyn langsung pasang badan, tapi Verlyn dengan tenang mengoperasikan tangannya pelan, menahan sekretarisnya agar tidak bertindak jauh. Verlyn menatap sosok pria di hadapannya. Pakaian Steven tampak sedikit kusut, matanya menyiratkan lelah dan penyesalan yang dalam. Verlyn menghembuskan napas pendek, lalu mengangguk tipis. Ia tahu urusan masa lalu ini harus diselesaikan secara tenang dan dewasa agar tidak ada lagi ganjalan menjelang hari bahagianya. "Fayyara, tunggu di dalam aja. Aku bakal bicara sebentar sama dia," ujar Verlyn tenang. "Tapi, Nona—" "Enggak apa-apa, cuma sebentar," potong Verlyn lembut tapi tegas. Verlyn kemudian menatap Steven. "Kita bicara di taman belakang gedung saja. Di sini terlalu terbuka." Tanpa menunggu jawaban, Verlyn melangkah lebih dulu menuju area taman terbuka di bagian belakang gedung Kizen Group. Steven berjalan di sisinya,
Waktu bergulir begitu cepat. Hari pernikahan dua pewaris korporasi raksasa itu kini tinggal dua minggu lagi. Kesibukan di Manhattan mencapai puncaknya, dengan tim gabungan Kizen dan Vyntie yang terus mematangkan semua persiapan akhir.Sore itu, Verlyn dan Kayn baru saja selesai mengecek ballroom utama di hotel bintang lima tempat resepsi bakal digelar. Didampingi Rainon dan Fayyara, mereka memastikan tata letak panggung, susunan tempat duduk untuk para pejabat dan tamu internasional, sampai skema pengamanan privat.Begitu urusan selesai dan kedua sekretaris mereka pamit buat mengurus konfirmasi tamu, Kayn langsung menarik tangan Verlyn menuju ruang VIP di sudut hotel.Pintu baru saja tertutup rapat saat Kayn melingkarkan kedua tangannya di pinggang Verlyn, mengistirahatkan dagunya di bahu wanita itu seraya mengembuskan napas panjang. Sikapnya yang mendadak manja membuat Verlyn terkekeh pelan."Kenapa, Tuan Viondra? Capek, ya?" goda Verlyn se
Pagi harinya di gedung Kizen Group, suasana lantai eksekutif mendadak terasa agak tegang sekaligus menggelitik. Kayn yang sejak pagi sudah berada di ruang kerja Verlyn tampak duduk santai di sofa kulit dengan secangkir kopi hitam, sementara Verlyn duduk anggun di balik meja kerjanya.Sesuai rencana jahil mereka semalam, Verlyn memanggil Fayyara buat membawakan berkas revisi proyek joint venture. Di saat yang bersamaan, Kayn juga menginstruksikan Rainon untuk mengantarkan berkas fisik dari Vyntie Group ke ruangan Verlyn.Tok, tok."Masuk," sahut Verlyn tenang.Pintu terdorong terbuka. Fayyara melangkah masuk membawa tumpukan dokumen, tapi langkahnya seketika terhenti kaku saat mendapati Rainon berjalan tepat di belakangnya. Rainon yang biasanya selalu bersikap tenang dan dingin kini tampak salah tingkah, refleks membetulkan letak dasinya saat mendapati tatapan penuh arti dari bosnya, Kayn.Kedua sekretaris pribadi itu berdiri berdamp
Kayn menatap Verlyn yang memajukan tubuhnya ke arah meja penuh rasa penasaran. Pria itu meletakkan gelas anggurnya pelan, lalu mengulas senyum tipis yang penuh arti."Rainon," jawab Kayn singkat dengan suara rendahnya yang tenang.Verlyn membelalak kaget. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dengan mulut sedikit terbuka."Rainon? Maksudmu... Rainon sekretaris pribadimu itu?" tanyanya memastikan."Siapa lagi?" kekeh Kayn pelan seraya menyandarkan tubuhnya santai. "Selama kita berlibur di Amalfi kemarin, dia yang memegang kendali penuh untuk mengurus semua dokumen dan laporan gabungan antara Kizen dan Vyntie. Tiap kali aku telepon untuk meminta laporan berkala, suara ketikan keyboard-nya sering mendadak berhenti. Terus saat dia bicara, nadanya jauh lebih lembut dan enggak sebaku biasanya. Lebih mirip orang yang lagi kasmaran."Verlyn spontan menutup mulut dengan sebelah tangan, lalu tawa renyah pecah dari bibirnya saat kesadaran itu mengha
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore