“Aku malu punya istri sepertimu! Jualan kue dan bergaul dengan ibu-ibu kampungan!” Dimas mengangkat kotak bening berisi kue buatan Hayati, lalu melemparnya ke lantai.Isi kotak berhamburan bersamaan dengan tangisan hayati. Dia bersimpuh di samping kotak kue yang teronggok di lantai. Matanya terasa panas dan hatinya bergetar. Hayati berjuang menahan rasa nyeri yang menusuk di dalam dadanya. Tangannya bergetar terulur untuk memungut lagi satu per satu kue-kue itu. Dia sendiri yang membuat kue-kue tradisional itu sejak pagi buta.“Kue-kue ini tidak salah, Mas. Ini halal dan menghasilkan uang,” Bibirnya perlahan mengucapkan kata dengan mengerahkan keberanian yang tersisa. Walau suaranya terdengar bergetar, Hayati mencoba untuk memberi penjelasan pada suaminya.Penjelasan Hayati justru menyulut amarah Dimas. Bagi Dimas, apa yang Hayati ucapkan terdengar seperti pembelaan diri sendiri dan menyalahkan da. Dimas dengan kasar menarik rambut hayati, menariknya dan memaksanya berdiri. Kotak kue y
Read more