Suasana terasa ramai. Saat menjelang tengah malam, teman dari kedua belah pihak baru berhenti beronar.Selesai membasuh tubuh, mereka berdua mengenakan piama merah terang duduk di samping ranjang.Caden terus menatap Naomi.Naomi yang ditatap terus itu pun mukanya memanas. Baru saja dia hendak berbicara, Caden pun memanggil, “Istriku.” Tercium juga aroma alkohol dari mulutnya.“Emm.”“Istriku?”“Emm?”“Istriku!”Naomi bertanya, “Mabuk ya?”Caden menggeleng dengan tersenyum. “Nggak, cuma ingin panggil kamu saja, Istriku.”Naomi tersenyum. “Kok jadi bodoh?”Caden membalas, “Memang bodoh, kamu suka atau nggak?”Wajah Naomi memerah. “Suka.”Jakun Caden bergerak. Dia mengangkat tangannya, lalu menyelipkan rambut panjang Naomi ke belakang telinga. Kemudian, dia mengusap wajah Naomi dengan perlahan. “Naomi, aku sangat gembira hari ini. Aku sangat amat gembira!”“Akhirnya aku bisa melihat kamu berpakaian gaun pengantin. Akhirnya aku berhasil menikahimu! Mulai hari ini, musim semi milikmu, musi
Baca selengkapnya