Situ Yu terdiam dan bibirnya membentuk senyum tipis. Senyum itu tidak lebar, tidak pula menunjukkan kemenangan. Ia muncul sebentar, seperti refleks yang tidak bisa ia tahan. Situ Yu bukan orang yang senang pamer, tetapi ia juga tidak bisa menahan satu rasa lega yang menembus kekhawatiran tadi. Setidaknya, Xiao Tian tidak sendirian. “Dua monster kuno tak dikenal? Gadis kecil? Komandan, koneksimu benar-benar melampaui imajinasiku,” batin Situ Yu. Ada rasa bangga yang menyeruak di dadanya. Temannya ternyata memiliki dukungan yang jauh melampaui imajinasi siapa pun di ruangan ini. Namun kebanggaan itu tidak membuat Situ Yu lupa posisi. Ia tetap berdiri dengan sikap hormat, tetap menjaga agar ekspresinya tidak memancing perhatian berlebihan. Ia paham, bagi sebagian pihak di aula ini, kabar tentang dukungan Xiao Tian bukan sesuatu yang patut dirayakan, melainkan sesuatu yang perlu diukur bahayanya. “Namun semua itu belum seberapa,” ucap Patriark sambil menatap Situ Yu dan Situ Feng ber
Last Updated : 2026-01-06 Read more