"Ayo, pergi!" Melihat keadaan sudah sejauh ini dan hasilnya tidak akan berubah lagi, Felicia kehilangan minat untuk terus menonton. Dia memberi perintah singkat kepada iblis bermata tiga, lalu bersiap untuk membawa Gerlin pergi begitu saja."Nggak mau. Aku nggak mau pergi! Lepaskan aku! Tolong lepaskan!" seru Gerlin sambil memberontak dengan sekuat tenaga. Air mata mengalir di wajahnya. Tatapannya dipenuhi kebingungan, keraguan, kekecewaan, dan ketidakpercayaan ketika melihat Felicia yang berdiri di depannya menunjukkan ekspresi dingin tanpa emosi.Gerlin menangis sambil memohon dengan suara tergesa-gesa, "Kak Felicia, sekarang kamu sangat kuat, 'kan? Aku bisa merasakannya. Kamu pasti sudah sangat hebat. Aku mohon, turunlah dan selamatkan Shafa, juga Paman Harun, Bibi Gauri, dan yang lainnya!""Kenapa aku harus menyelamatkan mereka?" tanya Felicia dengan nada datar. Alisnya mengerut rapat, jelas merasa terganggu.Mendengar jawaban itu, mata Gerlin membelalak. Dia terus menggelengkan ke
Read more