Kanaya berkata dengan nada halus, jemari lentiknya bergerak lembut membelai punggung kecil yang kini sudah mulai menengadahkan kepalanya."Lohsyana takut," ucapnya lagi masih dengan nada pelan yang sama. "Mama...." Anak itu tercekat seiring irama hujan pertama yang mengentak, menyapa atap rumah. Di luar jendela terlihat titik-titik air serupa bijian jatuh, gemericik berirama basah dan dingin. Balita Rozana tiba-tiba menangis keras.Kanaya segera menggendongnya, mendekap erat tubuh mungil yang gemetar itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang sambil membujuk, mengulang tanya."Tenang dulu, ya, Nak. Em, em, mama kenapa, Sayang? Cerita, deh, sama Bunda."Bocah Rozana terisak, kepalanya ikut menggeleng kecil. "Ma-mama... dibawa... Om," ucapnya gagap dengan suara manja yang khas, napas halusnya tersengal dan dua tangan kecil itu mengepal.Kanaya menggeleng pelan, menahan perih di dada, lalu merapatkan pelukan."Tidak, Sayang, itu cuma mimpi. Mama aman, mama baik-baik saja, oke," katany
Read more