"Maksudmu?" tanya Kanaya waspada.Dia mengikuti arah pandang Fera, dan untuk sesaat, sensasi dingin di tengkuknya kembali merambat. Tatapan itu... lekat, intens, seolah mampu menembus isi pikirannya."Renard mandang kamu dari tadi, kayaknya dia masih nyimpen perasaan sama kamu," bisik Fera dengan nada menggoda, tetapi tajam."Jangan ngaco, ah," bantah Kanaya, jemarinya mencengkram kotak hadiah lebih erat, telapak tangannya terasa dingin."Beneran, Naya. Aku serius," tukas Fera tanpa basa-basi, tak ingin dibantah.Di balik riuh ballroom, kata-kata Fera masih terngiang jelas di telinga Kanaya. Ingatannya meluncur jauh tanpa bisa dicegah—Suatu siang bertahun yang lalu, di halaman sekolah tampak masih basah sehabis hujan, aroma khas bau tanah dan wangi rumput yang baru dirintis. Dia ingat, dirinya duduk di bangku kayu dengan seragam yang sedikit kotor karena terpeleset saat berlari. Matanya bergetar panas menahan tangis yang gengsi untuk keluar. Lalu seseorang berhenti di depannya. Tanpa
최신 업데이트 : 2026-02-21 더 보기