Ruang psikiatri Maulana Medika, Kanaya sudah duduk di kursi dekat jendela ketika cahaya mentari menyelinap, menimpa lantai dan selimut putih milik Tuan Julio. Lelaki itu terjaga, tetapi tatapannya kosong ke arah jendela. Kanaya tidak langsung menyapa. Dia tahu, bagi Julio, kata-kata di pagi hari bisa terasa terlalu berat. Dia hanya menarik kursinya sedikit lebih dekat, memastikan kehadirannya bisa dirasa tanpa harus diberitahu."Selamat pagi, Ayah." Akhirnya, Kanaya berkata pelan.Julio tidak menjawab. Namun matanya bergerak sedikit, itu cukup bagi Kanaya untuk memastikan sapaannya didengar.Beberapa detik kemudian, Julio merespons pelan."Sudah ... pagi?" Suaranya serak."Iya, Ayah," balas Kanaya. "Masih pagi."Julio mengangguk kecil, kembali terdiam. Kali ini diamnya berbeda—lebih sadar, tidak sepenuhnya tenggelam. Matanya berkedip, jemari meremas selimut, lalu melepasnya perlahan, seolah memberi ketenangan pada diri sendiri.Kanaya menunggu tanpa menyela."Tidurnya ... nggak lama,
Last Updated : 2026-02-05 Read more