"Aku juga tidak," balas Laurent tegas, nada suaranya cukup membuat udara di sekitar ruangan seolah terhenti. Tatapannya kini berubah—lebih dalam, dan lebih dingin. “Rozana tidak bisa keluar dari sana.”Bella menatapnya tajam. “Kenapa?”Laurent tidak langsung menjawab. Dia justru mengikis jaraknya pada Bella, meneliti setiap lekuk wajahnya, seakan inti percakapan ini bukanlah hal yang mendesak.Baru ketika jarak mereka nyaris habis, pria tertampang bule itu berhenti. Aroma napas mint-nya menerpa lembut ke permukaan kulit Bella di saat dia berkata pelan, “Karena dia solusi giok sepuluh kita.”Ruangan kamar tua itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dan sempit.Bella mengepalkan tangannya. “Dia bukan benda,” desisnya penuh kontrol.Laurent hanya menatapnya tanpa emosi. “Dalam permainan ini, semua orang adalah alat," ucapnya, memperkuat fakta sederhana yang tidak perlu diperdebatkan.Bella membuka mulut, masih ingin membantah. Namun, Laurent lebih dulu melanjutkan ucapan.“Dan kamu tahu itu sej
Read more