Rasa sakit itu tidak lagi bisa didefinisikan dengan kata-kata. Sulli, yang kini hanya bisa berdiri lemas dan bersandar di pintu laboratorium yang dingin, akhirnya memahami sebuah pemandangan mengerikan yang sempat membuatnya bingung dan menatapnya dengan tatapan jijik pada ayahnya. Saat melihat Houston melepas pakaiannya, Sulli mengira ayahnya sudah gila. Namun sekarang, saat ribuan rahang semut yang tajam mulai menyusup ke balik kain pakaiannya, ia menyadari realitas yang jauh lebih menyiksa."Seharusnya aku mendengarkan Ayah tadi! Seharusnya saat Ayah meminta tolong padaku, aku menolongnya! Bukan malah memakinya!" Sulli benar-benar menyesal, dengan tatapan nanar, ia menatap jasad ayahnya yang benar-benar tak lagi utuh. Air matanya tak berhenti menetes."Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku.""Seharusnya, perselisihan ini tidak pernah terjadi, seharusnya aku mempercayai Ayah."Namun, semua penyesalan itu tidak ada gunanya kini. Lalu, Sulli pun melihat ke bawah, ke arah punggung tangannya y
Last Updated : 2026-01-20 Read more