“Pah, Papa maafin Dimas, kan? Dimas nyesel sudah bikin Papa marah” ujar Dimas kepada ayahnya. Pak Doni menghela napas panjang. Ia menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Kesal, tapi juga kasihan. Meski Dimas bukan anak kandungnya, dialah yang membesarkan Dimas sejak kecil. “Papa masih marah sama kamu, apalagi urusan rumah tanggamu dan Ara belum jelas. Tapi mau gimana lagi. Walaupun kamu bukan anak kandung Papa, Papa yang besarin kamu seperti anak sendiri. Dimas, kamu sudah mengecewakan Papa” “Tapi Papa juga enggak tega terus marah dan mukul kamu. Kamu sudah dewasa. Lagipula kemarin kamu sudah dapat pelajaran sampai masuk penjara” “Sekarang Papa cuma minta satu. Ubah sikap kamu, terutama mulutmu yang pedas itu. Jangan asal bicara. Dan jangan pernah nyakitin Shinta!” peringat Pak Doni. Dimas mendengus dalam hati. Lagi-lagi Shinta. Selalu Shinta. Bahkan di tengah masalahnya sendiri, ayahnya tetap memikirkan Shinta. Ia tahu Shinta adalah anak kandung Papa, sementara dirinya anak
Read more