LOGIN"Mas, kamu selalu mengatakan aku wanita kampung yang selalu menumpang hidup denganmu. Tidak ingatkah kau, siapa yang membiayai pengobatan dan kehidupanmu saat kau hampir cacat dan menjadi seorang pengangguran?" jerit Ara menatap tajam suaminya, Dimas. Ara selalu di katai wanita kampung dan miskin oleh suami dan keluarga mertuanya, namun ternyata.... Selama berumah tangga bersama dengan suaminya, Ara selalu mengalah saat di tindas oleh suami dan mertuanya sendiri. Namun, di saat dia menemukan kesalahan suami dan ibu mertuanya yang tidak termaafkan, di saat itu dia menyerah dan memulai rencana balas dendamnya.
View MoreTak!
Suara hentakan keras dari gelas kaca yang beradu dengan meja terdengar nyaring di sebuah ruang makan. Dimas, sang pelaku yang baru saja meletakkan gelasnya dengan keras, mendongak menatap istrinya tajam. "Apa kamu mulai membangkang, Ra?" ujar Dimas dengan nada geraman tertahan, menatap tajam Ara, istrinya. Rania Arasha, wanita 24 tahun yang biasa dipanggil Ara oleh orang terdekatnya, tidak terkecuali sang suami, menundukkan kepala, meremas tangannya yang mulai berkeringat dingin di bawah tatapan tajam suaminya. "Ma-Mas, aku cuma mau..." ucapan Ara terhenti saat mendengar suara suaminya yang meninggi, menyuarakan ketidaksetujuan. "Gak boleh! Mas bilang gak boleh, ya gak boleh!" sentak Dimas, tidak peduli wajah istrinya yang mulai pucat dan sendu. Ara memberanikan diri menatap suaminya, meskipun dia berusaha keras untuk tidak menangis. Matanya berkaca-kaca, menatap wajah suaminya dengan memelas. "Mas, Ara cuma mau nengok Ibu. Sebentar saja. Ibu sakit, Mas. Ibu mau lihat Ara" lirih Ara mencoba mengais iba dari suaminya agar mengizinkan dia pergi menemui ibunya yang sedang dilanda kondisi tidak sehat. Kilatan mata Dimas semakin tajam ketika menatap istrinya, masih dengan ketidaksetujuan, ketika mendengar istrinya terus merengek meminta ingin pergi untuk menemui ibu mertuanya. "Emangnya kenapa kalau Ibu sakit? Toh, Ibumu selalu beralasan sakit selama ini. Kalaupun sakit, paling cuma sakit biasa. Anak Ibumu bukan cuma kamu, Ara!" "Reno, Bima? Mereka juga anak Ibumu, kan? Kalau kamu gak jenguk Ibumu, masih ada mereka berdua yang jenguk dan bisa ngurus Ibumu!" "Kamu ini jangan kalau ada apa-apa sedikit sama Ibumu, kamu minta izin pergi sesuka hatimu, untuk nemuin Ibu!" "Kalau kamu pergi, siapa yang ngurus rumah ini?! Siapa yang ngurus aku?! Siapa yang nyuci baju, masak, nyapu, terus bantu Mama aku, kalau aku lagi gak ada?" "Siapa?! Udahlah kamu nurut, jangan bikin aku marah! Dosa kamu bikin suami marah! Ibumu palingan juga gak butuh kamu. Dia cuma butuh uang!" "Kirim aja seratus ribu untuk biaya berobat Ibumu. Aku rasa di kampung uang seratus ribu, lebih dari cukup untuk berobat! Bereskan masalah? Sekarang mendingan kamu beresin meja makan ini!" "Aku mau berangkat kerja! Kamu ini masih pagi udah bikin kesel aja!" omel Dimas sebelum akhirnya bangkit dari duduknya meninggalkan Ara yang masih tertunduk, menangis dalam diam akibat sakit hati dengan ucapan suaminya yang terkesan menyepelekan kesehatan ibunya, dan statusnya sebagai istri yang tidak lebih dari seorang pembantu dibanding pendamping hidup. "Mas, teganya kamu" lirih Ara mengusap air matanya kasar. Dia menghela napas berat, lalu mulai membereskan sisa makanan dan piring yang ada di atas meja makan, bekas sarapan pagi suaminya. Ara menggertakkan gigi, mencoba menahan amarah yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Selalu saja seperti ini. Dia ditinggalkan setelah suaminya melampiaskan amarah padanya untuk sesuatu hal yang dia tidak tahu di mana letak kesalahannya. Dia hanya ingin menemui dan menjenguk ibu kandungnya sendiri, namun Mas Dimas seperti menganggapnya seolah sebagai istri yang ingin kabur dari rumah. "Astagfirullah. Sabar, sabar. Ingat Ara, perintah suami harus ditaati. Jadi jangan ngeluh dan ngebantah. Astagfirullah" "Ya Allah, tolong hamba, agar hati suami hamba bisa lunak dan mengizinkan hamba bertemu dengan Ibu" "Ya Allah, tolong berikan kesabaran kepada hamba, agar hamba memiliki hati seluas samudra untuk menghadapi tabiat buruk Mas Dimas" gumam Ara menghela napas berat, menghirup napas dalam berkali-kali untuk meredakan emosinya yang membuncah. Bohong jika hatinya tidak dongkol akan ucapan suaminya yang terkadang selalu keterlaluan padanya, apalagi ketika membahas tentang keluarganya. Dia masih tidak mengerti apa kesalahannya dan dosanya hingga bisa ditakdirkan menikah dengan pria seperti Dimas yang memiliki tabiat jelek. Tidak hanya Dimas, namun keluarga suaminya juga memiliki tabiat yang sama buruknya. Jika saja bukan karena perjodohan akibat surat wasiat tetua terdahulu yang ingin menikahkan cucu-cucu mereka, sungguh dia tidak akan pernah mau berada di posisi seperti saat ini. Di mana dia menjadi istri dari seorang pria bernama Dimas Baqi. Ara meletakkan piring di wastafel, sebelum dirinya berbalik untuk pergi ke halaman rumah ketika dia mendengar suara gerungan mesin mobil yang sedang dipanaskan oleh suaminya sebelum berangkat pergi ke kantor. "Kamu mau berangkat, Mas?" tanya Ara berbasa-basi ketika melihat suaminya sedang bersiap. Dimas menatap Ara acuh tak acuh, hatinya masih dongkol dengan perbuatan istrinya yang sudah membuatnya kesal di pagi hari. "Hmmm," jawab Dimas berdehem pelan, masih enggan berbicara kepada istrinya. Dia berjalan ke rak sepatu, untuk mengambilnya, lalu memakainya. "Mas, kamu masih marah sama aku?" tanya Ara ketika melihat wajah masam suaminya. Dimas menatap Ara sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Dia memasang kaus kaki terlebih dahulu sebelum memakai sepatu. Ara menghela napas berat. Dia tahu dirinya tidak salah, namun ketika melihat wajah suaminya yang masam, dia jadi tidak enak hati sendiri. Bagaimanapun selama ini dia diajarkan untuk selalu menghormati suaminya, dan selalu mengingat nasihat kedua orang tuanya jika apa pun yang terjadi, dia tidak boleh membuat marah suaminya, mengingat takhta suami di atas segalanya bagi seorang perempuan yang sudah menikah. "Mas, aku minta maaf" ujar Ara pelan menatap ragu suaminya. Dimas bergeming di tempatnya, masih enggan menatap istrinya yang berdiri di depannya. Meskipun dia mendengar jelas permintaan maaf Ara, walau diucapkan dengan pelan, namun dia tidak ingin memaafkan istrinya begitu saja yang sudah membuat hatinya dongkol. "Mas, aku minta maaf. Aku salah sudah buat kamu kesal. Aku akan telepon Ibu dan bilang kalau aku gak bisa pergi jenguk Ibu. Tolong kamu jangan marah lagi" ujar Ara dengan helaan napas berat, ketika lagi-lagi harus menunda kepergiannya untuk menjenguk ibunya di kampung. Dimas mendongak menatap Ara sekilas, sebelum berdehem pelan. Dia bangkit dari duduknya setelah selesai memakai sepatu, lalu menyodorkan tangannya untuk dicium oleh Ara. "Aku pergi dulu. Ingat janji kamu yang gak akan pergi!" ujar Dimas. Ara menganggukkan kepala dengan berat hati, lalu mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati di jalan, Mas," lirih Ara dengan suara tercekat, sebisa mungkin tidak menangis karena kekecewaan hatinya yang begitu besar, sebab dirinya yang selalu dipaksa untuk mengerti keinginan sang suami, dan selalu mengabaikan keinginannya sebagai seorang istri. "Jangan nangis! Aku cuma nyuruh kamu diam di rumah, bukan kerja keras kayak aku di luar rumah! Soal Ibumu, kamu bisa transfer dua ratus ribu" "Hitung-hitung buat Ibumu bisa jajan pas berobat" ujar Dimas sebelum akhirnya menaiki mobil dan pergi dari rumahnya untuk pergi bekerja. Ara masih terdiam kaku di tempatnya. Hatinya seperti ditimpa palu godam setelah mendengar ucapan suaminya yang begitu meremehkan dia dan keluarganya, terlebih ibunya sendiri. "Mas, apa aku dan keluargaku pernah menyusahkanmu selama ini?" lirih Ara, terisak keras setelah mobil suaminya tidak terlihat lagi.Hari keputusan sidang cerai tiba. Ara datang didampingi bersama dengan Reno dan Bima. Sedangkan Dimas juga datang bersama dengan anggota keluarganya secara lengkap. Pak Bayu, Bu Salamah dan Shinta datang bukan hanya untuk memberi dukungan kepada Dimas, tapi juga untuk menyelesaikan ganjalan hati yang ada.Dimas dan Ara akhirnya secara sah bercerai. Masalah harta gono-gini pun diselesaikan tanpa banyak perdebatan. Dimas dan keluarganya mencoba mengikhlaskan apa yang menjadi milik Ara. Mereka pun sadar tidak memiliki hak atas itu. "Ara!" Panggil Dimas kepada Ara setelah selesai keluar dari ruang sidang.Ara menoleh. Ia menatap Dimas yang mendekat dengan ragu, apa dia harus membalas sapaan itu atau tidak.Reno dan Bima berdiri di sisi kiri dan kanan Ara untuk melindungi saudara perempuan mereka itu dari Dimas. Dimas menatap Ara. Setelah berpisah dengannya, Ara justru makin terlihat cantik. Seketika ia menyesal. Bukankah Ara harusnya bisa secantik ini jika ia bisa mengurus dan mengharg
"Jadi anak yang ada di dalam kandungan Cika itu bukan anak kamu?! Bukan cucu ibu?!" Bu Salamah berteriak marah. Jika saja tubuhnya tidak ditahan oleh suaminya, ia sudah melompat untuk menerjang Cika dan memberi pelajaran. Dimas mengangguk lesu dan malu."Iya Bu! Lont* ini udah nipu aku habis-habisan! Dimas menceritakan apa yang sebelumnya Cika beritahu padanya. Wajah pak Bayu kelam. Ia menatap Cika tajam. Sedangkan Cika sendiri semakin menciut di pelukan Alex. "A-aku gak maksud nipu. Dimas sendiri yang kepincut sama aku. Dia juga yang sukarela nikahin aku. Salah siapa aku bilang anak dalam perut ini adalah anaknya, ia malah percaya" ujar Cika membela diri. Wajah semua orang berubah, terutama Dimas dan keluarganya yang seakan ingin melahap tubuh Cika hidup-hidup. Mereka yang awalnya simpati kepada Cika, kini berubah simpati kepada Dimas. Meskipun masalah Dimas yang membuat keributan sampai ingin mencelakai Cika tidak bisa diabaikan begitu saja. Bu Salamah tidak bisa mena
Dimas sungguh tidak percaya apa yang didengarnya. Ia sudah mempertaruhkan segalanya demi menikahi Cika. Nama baik di mata keluarganya karena menikahi seorang wanita tidak benar. Lalu ia terpaksa membohongi Ara dan bermain dibelakang istrinya ketika harus bersama dengan istri keduanya ini. Dan yang terpenting adalah anak yang telah ia tunggu kelahirannya dari rahim Cika yang ia kira adalah anak kandungnya ternyata itu adalah anak milik pria lain. Walaupun Cika selama ini memiliki reputasi yang tidak baik, tapi demi anak yang ada di dalam kandungan Cika yang ia pikir anaknya, ia tetap bersuka cita atas kehadiran buah hati itu. Bukan hanya dia yang menunggu kelahiran anak ini, tapi juga ibu dan keluarganya. Tapi apa? Semua hal yang ia tunggu ternyata hanya sebuah tipuan. Karena Cika pula ia kehilangan istrinya Ara. Mata Cika melotot ketika merasakan lehernya tercek*k oleh tangan Dimas. Ia terus memukul tangan Dimas agar melepaskan jeratan dari lehernya. "M-Mas lepas! K-Kamu gil
"Kata pengacara, mereka yakin sebentar lagi perceraian kamu sama Dimas bukan cuma mimpi, tapi juga akan dikabulin secepatnya. Saksi dan bukti kita kuat. Kita cuma perlu nunggu putusan sidang selanjutnya" "Bukan cuma itu. Selain bercerai, mas akan pastiin kamu dapat hak kamu yaitu pembagian harta gono-gini. Mas masih ingat kamu dapat mahar cukup besar dari pihak keluarga Dimas, terutama mahar jaminan dari pihak kakek Dimas yang dijanjikan akan menjadi milikmu setelah kau menikah dengan anggota keluarga mereka" ujar Reno kepada Ara. Ara awalnya hanya ingin bercerai dan tidak memikirkan apapun selain itu, termasuk harta gono gini. Mengingat tabiat suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan serta tabiat ibu mertuanya, ia tidak yakin mereka akan memberikan hak itu. Ia bahkan takut perceraiannya dipersulit jika ingin meminta lebih walau itu adalah haknya sendiri. Namun dengan dukungan dan pengertian kakak sulungnya, ia setuju untuk memperjuangkan itu. Toh yang diperjuangkan itu adala
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.