Alis Ruben berkerut, matanya mulai memerah, dia tampak seperti akan menangis."Kenapa menangis? Kaisar, Anda seorang lelaki. Jangan menangis!"Air mata Ruben terhenti oleh teriakan Tenri. Dia cemberut, kemudian dengan enggan bergerak ke arah singgasana."Yang Mulia Tenri benar. Seorang pria tidak boleh menangis, tapi juga seharusnya tidak membiarkan orang lain meneriakinya," sahut Arjuna sambil melangkah ke dalam aula.Ruben, yang sebelumnya bergerak lambat, kini melompat ke depan Arjuna dengan cepat."Bagaimana kondisi kakakku sekarang?"Wajah Ruben dipenuhi kekhawatiran. Dia memang idiot, IQ-nya setara dengan anak berusia lima atau enam tahun, tetapi perasaannya terhadap Amira tulus."Beraninya kamu menanyakan kondisi kakakmu?"Arjuna memelototi Ruben dengan marah. Dia benar-benar geram. Ketidaksengajaan Ruben hampir membuatnya kehilangan istri serta anak yang belum lahir.Ruben, seperti anak kecil yang telah berbuat salah, mencengkeram bajunya erat-erat. Dia berbisik, "Ruben ... Rub
Baca selengkapnya