Arjuna, seorang pria dari zaman modern, mengalami transmigrasi ke zaman kuno. Kerajaan Bratajaya sangat kekurangan laki-laki. Tidak ada laki-laki yang mempertahankan kota, berperang dan bertani. Demi meringankan penderitaan rakyat, pemerintah kerajaan pun menganjurkan pernikahan. Orang yang bersedia menerima lebih dari tiga istri akan diberi imbalan. Orang yang melahirkan anak laki-laki akan diberi imbalan tinggi. Arjuna diberi empat istri cantik yang memiliki kelebihan masing-masing. Tahun berikutnya, istri Arjuna melahirkan anak kembar empat. Semuanya laki-laki. Begitu kabar ini tersebar, sepenjuru Kerajaan Bratajaya pun gempar.
View More"Baik, Yang Mulia!"Arjuna menatap Binsar yang sedang sibuk memberi perintah di menara.Semoga, Binsar dan anak buahnya dapat bertahan selama tiga jam lagi...."Bam!" Sebuah suara keras terdengar."Putri, Putri! Perdana Menteri Negara Surgajelita, Naufal, dengan air mata menggenang di matanya, berlari ke arah Amira dengan penuh semangat. "Sudah rusak! Kita telah mendobrak gerbang Kota Sudarana, Bratajaya!""Benarkah?"Wajah Amira dipenuhi kegembiraan.Dia sudah tahu bahwa gerbang Kota Sudarana telah didobrak ketika mendengar suara itu. Sekarang, setelah mendengarnya sendiri, dia merasa makin tenang.Amira melompat ke atas kudanya dan sekali lagi mengarahkan pedangnya ke arah Kota Sudarana."Masuk kota!""Makan nasi!"Kata-kata Amira, bagaikan minyak yang menetes ke api, kembali menyulut semangat para prajurit Negara Surgajelita."Masuk kota!""Makan nasi!" "Para prajurit Negara Surgajelita meneriakkan slogan-slogan saat mereka menyerbu Kota Sudarana.Para prajurit Negara Surgajelita
Biasanya, kematian begitu banyak orang, bahkan kematian yang mengerikan seperti itu, akan memberikan efek jera, mencegah orang yang berada di belakang untuk maju dengan gegabah.Namun ...."Serang!"Raungan dari bawah menara tidak hanya tidak mereda, tetapi malah makin intensif.Binsar berlari ke tepi menara untuk melihat.Pasukan Negara Surgajelita bagaikan semut, menyerbu dengan padat, membentuk massa hitam, menuju Kota Sudarana."Jenderal, apakah para prajurit Negara Surgajelita sudah gila?" tanya wakil jenderal di samping Binsar.Binsar tidak tahu harus menjawab apa. Kulit kepalanya merinding saat dia memandangi lautan prajurit Negara Surgajelita di luar menara kota.Binsar adalah orang tertua kedua setelah Ardian. Dia telah bertempur dalam ratusan pertempuran, besar maupun kecil, bersama Ardian.Ini pertama kalinya dia menyaksikan kegilaan seperti orang-orang Negara Surgajelita.Binsar kembali menatap kota.Rakyat masih berlarian, mereka bergerak lambat karena harus membawa makana
"Yang Mulia, jangan khawatir, aku pasti akan membawanya keluar." Galang meyakinkan."Kamu juga. Jangan sok, jangan gegabah."Meskipun Galang berulang kali meyakinkannya bahwa dia akan berhati-hati, Arjuna tetap khawatir dan mengirim pengawal yang ditinggalkan Dewi untuk melindungi Galang.Kali ini Ardian tidak ikut. Arjuna tidak ingin tak berani menghadapi Ardian setelah kembali....Di luar Kota Sudarana.Delapan ratus ribu pasukan Negara Surgajelita bagaikan semut yang meninggalkan sarang, berdesakan, tanpa ujung yang terlihat.Binsar melihat pasukan Negara Surgajelita di bawah tembok kota, kemudian berbalik untuk bertanya."Saudara-saudara, apakah kalian takut?""Tidak!"Junaid adalah yang pertama menjawab, panahnya terangkat.Ketika di Kota Perai, dia masih seorang pemuda bau kencur, tetapi sekarang tingginya sudah 180 sentimeter.Tubuhnya tegap, kulitnya kecokelatan, aura maskulinnya terpancar darinya.Dia yang baru saja menikah dan akan segera menjadi ayah, sudah menjadi pria dew
"Ya, itu sepenuhnya demi kebaikan kalian sendiri. Tidakkah kalian lihat para pemuda di Resimen Pertama? Mereka semua begitu lembut dan halus. Jika mereka benar-benar bertemu Pasukan Surgajelita, mereka mungkin akan mengompol.""Benar sekali. Nanti seluruh tempat pasti akan dipenuhi bau pesing."Para komandan resimen lain tertawa terbahak-bahak."Apa maksudmu mengompol? Tidak ada satu pun pengecut di Resimen Pertama!" Mossen mengepalkan tinjunya."Memang bukan pengecut, hanya ....""Cukup!" teriak Arjuna. "Perang sudah di depan mata masih bercanda.""..." Suasana tiba-tiba hening.Arjuna melihat sekeliling. "Semua resimen telah dikerahkan ....""Yang Mulia ...."Suara samar terdengar dari pojok.Semua orang menoleh ke arah suara itu.Itu adalah Dimas, Komandan Kota Sudarana."Yang Mulia, Anda belum mengerahkan garnisun Kota Sudarana.""Oh!" Arjuna buru-buru mengangkat tangannya, meminta maaf. "Maaf, aku hampir melewatkan kalian.""Komandan Kota Sudarana!" teriak Arjuna dengan nada mende
"Kak Galang benar. Kita sama sekali tidak boleh menggunakan taktik tidak langsung dalam pertempuran ini.""Lapor!"Sebelum Arjuna selesai berbicara, seorang utusan lain tiba dengan sebuah laporan.Pasukan Negara Surgajelita hanya berjarak lima belas mil dari Kota Sudarana."Binsar, Haryo!""Hadir!" Binsar langsung berdiri tegak."Kalian bawa Resimen Kedua, pertahankan tembok kota.""Baik!""Haryo, Luhur, Tirta!""Hadir!""Kalian bawa Resimen Ketiga, Keempat, dan Kelima, mundur dari Ibu Kota Sudarana.""... baik!"Tanggapan Haryo, Luhut, dan Tirta kurang tegas. Mundur dari ibu kota?Apa maksudnya? Apakah mereka tidak akan bertarung?Meskipun pikiran mereka dipenuhi pertanyaan, Haryo, Luhut, dan Tirta dengan tegas mengikuti perintah, bahkan merasa sedikit bersemangat.Taktik Arjuna selalu aneh, melampaui pemahaman dan imajinasi semua orang.Mereka tidak lagi seperti saat melawan Pasukan Kota Teratai, dipenuhi kecurigaan, kemarahan, atau bahkan keengganan untuk mengeksekusinya.Sekarang,
"Lapor!"Komandan Kota Sudarana, Dimas, membawa kabar bahwa pasukan Negara Surgajelita yang beranggotakan 800.000 orang berada dalam jarak tiga puluh mil dari Kota Sudarana.Tiga puluh mil, bagi pasukan yang terlatih dengan baik, memakan waktu kurang dari dua jam untuk mencapai Kota Sudarana.Arjuna belum juga mengeluarkan perintah apa pun.Semua orang, termasuk Galang dan Ayumi, menunggu dengan cemas.Saat ini, alis Arjuna sedikit bertaut, ekspresinya serius, matanya tertuju pada meja pasir di hadapannya."Kak Galang."Arjuna tiba-tiba mengangkat kepalanya."Panggil lima komandan patroli dan Komandan Kota Sudarana kemari."Setelah para komandan tiba, Arjuna meminta Galang untuk menjelaskan situasi terkini secara singkat.Ketika mereka mendengar bahwa pasukan Negara Surgajelita memiliki 800.000 orang, kelima komandan patroli itu tersentak.Delapan ratus ribu, jumlah ini jauh melebihi ekspektasi mereka.Sebelumnya mereka mengira hanya 200.000 atau 300.000."Begitulah situasinya. Pasukan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments