Perlahan aku mendekat. Mungkin dia butuh seseorang untuk sekadar duduk di sampingnya. “Mbak Sakinah?” Dia menoleh cepat, wajahnya jelas terkejut. Air matanya masih membekas di pipi. Tanpa bicara, aku menyodorkan tisu. “Makasih banyak, Mbak Ratih.” Suaranya serak, parau, nyaris tenggelam oleh sesenggukan yang coba ia tahan. “Boleh aku duduk di sini?” tanyaku lembut. “Boleh, Mbak.” Ia menggeser duduknya sedikit, memberi ruang. “Enak ya duduk di sini,” kataku, mencoba mencairkan suasana. “Enak banget, Mbak. Aku sering ke sini kalau lagi pengin tenang,” jawabnya tanpa menoleh. “Hanya taman ini yang bisa aku jadikan tempat untuk berbagi luka di hati ini, Mbak.” Aku tertegun. Suaranya berat, nyaris pecah, seolah setiap kata adalah serpihan luka yang ia keluarkan perlahan. “Mbak Sakinah lagi libur kerja ini?” aku mencoba menggiring pembicaraan agar ia merasa lebih ringan. Dia menoleh sebentar, lalu menghela napas panjang. “Aku cuti, Mbak. Pikiran sudah terlalu penuh. Kalau dipaks
Terakhir Diperbarui : 2025-05-10 Baca selengkapnya