“Sebentar ya, Pak,” kataku cepat, berdiri dari kursi. Namun sebelum sempat melangkah, dari kejauhan aku melihat seorang perempuan berkerudung pastel berlari kecil ke arah tempat permainan. Rafa tampak terduduk di tanah, wajahnya meringis menahan sakit. Lutut kecilnya lecet, ada sedikit darah yang merembes di bawah celana. Perempuan itu berjongkok di depannya, menepuk-nepuk pelan bahunya. “Nak, gak apa-apa? Sakit ya?” Terdengar suaranya yang lembut, menenangkan. Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan tisu basah. Dengan sabar, ia membersihkan luka Rafa, meniup pelan di setiap sela yang perih. Rafa menatap perempuan itu dengan mata berkaca-kaca. “Cuman jatuh, Tante. Gak apa-apa kok,” jawab Rafa berusaha kuat, meski bibirnya bergetar menahan tangis. Perempuan itu tersenyum, tatapannya hangat. Sepertinya orang baik. Dengan tergesa aku berjalan cepat ke arah mereka. “Anak kuat, ya. Tapi gak apa-apa kok kalau mau nangis. Kadang, anak hebat juga perlu nangis,” ucap perempuan it
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-01-08 อ่านเพิ่มเติม