Share

Bab 12. Apa Itu Aku?

Author: Farid-ha
last update Last Updated: 2025-05-10 09:03:54
Perlahan aku mendekat. Mungkin dia butuh seseorang untuk sekadar duduk di sampingnya.

“Mbak Sakinah?”

Dia menoleh cepat, wajahnya jelas terkejut. Air matanya masih membekas di pipi. Tanpa bicara, aku menyodorkan tisu.

“Makasih banyak, Mbak Ratih.” Suaranya serak, parau, nyaris tenggelam oleh sesenggukan yang coba ia tahan.

“Boleh aku duduk di sini?” tanyaku lembut.

“Boleh, Mbak.” Ia menggeser duduknya sedikit, memberi ruang.

“Enak ya duduk di sini,” kataku, mencoba mencairkan suasana.

“En
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
jgn2 sakina istrinya damar dan mereka bersandiwara utk menarik perhatian rafa sementara si ratih yg tolol msh tetap bersandiwara. buruan urus perceraianmu nyet. klu perlu laporkan si damar.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Apa yang Perempuan Itu Inginkan?

    “Namun, saya tetap minta kamu waspada—bukan karena hukumnya, tapi karena langkah di luar hukum.”Aku mengangguk, mengiyakan ucapannya. “Secara teori hukum, Damar hampir tidak punya peluang. Tapi pengadilan bukan satu-satunya medan. Orang seperti dia seringkali bermain bukan di ranah hukum—dan itu yang harus kita antisipasi.”Aku menarik napas, sedikit lega. Tapi, tidak benar-benar bisa tenang. Sebagai orang yang mengenal pribadi Damar, ketakutan itu masih ada meski kadarnya sudah tidak sebanyak tadi. “Ratih, fokus kamu sekarang satu saja, jaga kondisi kamu dan Rafa. Urusan menghadapi Damar, biar saya yang berdiri di depan. Kamu tidak sendirian dalam perkara ini,” ucap Afrizal, seolah bisa membaca pikiranku. Setelah konsultasi yang cukup panjang dengan Afrizal, aku pun pamit pulang dari gedung yang berada di barisan ruko-ruko elite di kota ini. Ke luar dari ruko, aku menatap jajaran bangunan yang ada di seberangnya. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa sedikit menenangkan pikiranku.Da

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 22

    “Bu, kenapa sih sekarang makannya sedikit sekali. Bahkan, seperti orang yang tidak nafsu makan.” Teguran Rafa membuatku tercekat. Refleks, aku menghentikan tangan yang sedang mengaduk-aduk makan. Sendok kuletakkan di atas piring.“Makanannya nggak enak emangnya, Bu?” Rafa menirukan gaya bicaraku kala melihatnya tidak nafsu makan. Aku tersenyum tipis menanggapinya.“Ibu lagi diet,” jawabku asal.“Kalau mau diet seharusnya Ibu nggak ngambil piring. Cukup temani Rafa makan.” Aku kembali tersenyum mendengar sentilannya. “Baik, Bos. Lain kali Ibu tidak akan ambil piring deh,” jawabku sekenanya demi menyenangkan hatinya. Nyatanya, bukan karena diet aku menolak makanan. Tapi, pikiranku yang tidak tenang hingga menghilangkan nafsu makan. Sejak kedatangan Damar kemarin, aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Tidak bisa makan dengan kenyang. Kepalaku selalu berisik dengan ancaman Damar. Tinggal dua hari lagi kami bertemu di persidangan. Aku tahu, secara teori hukum dia pasti kalah.

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Ancaman Damar

    “Izinkan aku masuk ke dalam,” katanya pelan, suaranya berat tapi jelas bergetar.Aku menahan napas, lalu meraih daun pintu erat-erat, seolah itu satu-satunya pelindungku. “Untuk apa kamu datang ke sini?” suaraku serak, bergetar.“Ada hal penting yang harus kita bicarakan,” jawabnya, tatapannya menembus mataku.Aku menggeleng cepat, menahan amarah yang bercampur ketakutan. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Pergilah sebelum anakku pulang melihat kehadiranmu.”Damar mendesah panjang, wajahnya menegang. “Untuk itulah aku datang ke sini.”Aku menyipitkan mata, jantungku berdegup kencang.Aku duduk di teras. Aku sengaja tak membiarkan lelaki itu masuk ke dalam rumahku. Ada ruang yang tak pantas ia injak lagi, setelah luka bertahun-tahun ia tinggalkan tanpa peduli. “Maksudmu apa?” Nada suaraku meninggi, hampir tak terkendali.“Aku sudah menerima surat panggilan dari pengadilan agama.” “Lalu apa masalahnya? Tinggal datang. Bisa kan?” Damar mengatur napas panjang. “Aku mohon cabut

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 21

    Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Berteman. Kata itu terdengar sederhana. Ringan. Tapi bagiku, kata itu sangat menakutkan bagiku. Karena bisa membuka lama dan menyerat Rafa menuju masa lalu yang selama ini kukunci rapat-rapat. Rafa tidak tahu apa-apa. Ia hanya melihat Azka sebagai anak kecil yang lapar, lelah, dan sendirian. Ia tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh Azka adalah darah yang sama dengan darahnya yang mengalir dari ayahnya. Lelaki yang pernah mengkhianati kami dengan segala keburukannya. Aku mengalihkan pandangan ke Azka. Bocah itu berdiri diam di depan rumah reyotnya. Tangannya menggenggam bungkusan nasi dan uang yang tadi kuberikan, seolah benda-benda itu adalah harta paling berharga di dunia. Dan entah kenapa… hatiku semakin hancur melihatnya. “Bu?” Rafa memanggil lagi, suaranya lebih pelan. “Kenapa diam?” Aku menghela napas panjang. “Berteman itu boleh,” jawabku akhirnya. Suaraku lirih, nyaris tak terdengar. “Asal Rafa tetap nurut

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Dia Tidak Bersalah, Tapi Meninggalkan Luka

    "Bu, boleh ya Azka pulang ke rumah kita?”Aku mematung mendengar permintaan polos Rafa. Napasku tercekat di tenggorokan.Allah… apa maksud Engkau mengirimkan Azka di hidup kami?Anak ini polos. Tidak tahu apa-apa. Tidak tahu urusan ibunya di masa lalu. Salah jika aku membencinya. Namun, menerima Azka begitu saja rasanya mustahil. Karena, di balik kepolosan itu, aku tahu—tidak menutup kemungkinan Rafa akan semakin dekat dengan ayahnya. Dan aku… aku belum siap untuk itu.Aku mengusap wajahku kasar, menahan napas yang hampir tercekat. Tanganku gemetar. Tapi aku harus tetap tenang, setidaknya di depan Rafa dan bocah itu.“Memangnya kamu nggak sekolah?” Aku mencoba menahan suara yang mulai bergetar.Azka menggeleng, pandangannya menunduk lebih dalam. “Bajuku basah. Kemarin kamar kami kebocoran.”Allah… sesusah itukah hidup mereka? Dadaku remuk. Rasanya ingin aku peluk bocah itu, sembari menumpahkan seluruh kesedihan dan penyesalanku. Tapi luka lama tentang Dina menahan semua itu.Rafa mena

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Apa Alasan Kau Pertemuan Kami Lagi?

    Darah yang tadi terasa mendidih perlahan seperti membeku melihat Azka berdiri kaku. Tangannya mencengkeram karung itu lebih erat, seolah siap pergi kapan saja jika aku memintanya.“Bu, Rafa boleh bantu Azka sebentar aja, ya?” Rafa menatapku dengan mata bulatnya. “Kasihan… dia sendirian.”Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. “Rafa… ayo pulang. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” ucapku dengan suara tegas setelah berhasil menguasai keadaan. Namun Rafa tidak langsung menurut.Ia kembali berjongkok, memasukkan botol terakhir ke dalam karung Azka. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin membuat bocah itu kesulitan membawa beban.Azka hanya menunduk. Tidak bicara. Aku berdiri mematung saat melihat wajah kecilnya yang terlihat kelelahan. Anak sekecil ini harus memungut botol demi sesuap nasi. Ada rasa iba yang menyelusup. Tapi, jika teringat wajah ibunya, amarah itu kembali mencuat.“Bu… jangan marah, ya?” Rafa menatapku. “Rafa cuma kasihan sama Azka,” ucapnya ringan. Aku menghela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status