Cahaya Matahari siang masuk melalui celah korden kamar Lily dan Arsen yang tertiup angin. Mereka masih nyaman berdua, saling berpelukan setelah pergulatan panas yang selalu berakhir menciptakan peluh di kening. "Kita harus mandi, sebentar lagi harus pergi menjemput Ace dan Audrey," ucap Lily. "Sebentar lagi, aku masih mau memelukmu sebentar lagi, nanti kita bisa pergi pakai mobil," balas Arsen. Ia semakin memeluk tubuh polos Lily di balik selimut. "Tapi Ace lebih senang pulang naik kereta," protes Lily. Ia paham sifat putranya yang kini berumur empat tahun itu. Ace bisa tantrum jika sampai apa yang dijanjikan tidak ditepati. "Aku akan membelikannya es krim, tenang saja," ucap Arsen. "Jangan sering menyogok putramu itu, tidak baik." Lily langsung menyibak selimut, dia memunguti bajunya yang tercecer di lantai lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Arsen menenggelamkan wajahnya ke bantal, padahal dia masih ingin satu ronde lagi, tapi Lily sudah khawatir telat menjemput an
Read more