"Sayang, pergilah lebih dulu ke ruangan Erika. Aku mau beli sesuatu dulu, mungkin vitamin untuknya." bisik Martin lembut seraya mengecup pipi Camille. Mereka sudah sampai di lorong khusus perawatan pasien VVIP dan Erika berada di ruang paling ujung. Sepi dan hening, khas area untuk orang-orang berkuasa, di mana lalu lalang petugas sangat minim.Camille mengangguk, "Jangan lama, oke? Tadi kau bilang Elara demam, kita harus pulang cepat, hm?" Martin mencubit gemas pipi istrinya, "Tentu. Kita juga sedang program membuat anak perempuan, bukan?" kekehnya, yang langsung dibalas sikutan pelan dari Camille.Camille berjalan cepat menuju ruangan tempat Erika. Setelah mengetuk dua kali, Olive tergesa membukakan pintu untuknya. Oh, maaf ...aku benar-benar merepotkan, sampai kau harus datang ke sini," ucap Erika yang bersandar di atas brankar.Camille tertawa kecil. "Mana ada repot." Ia menyalami Nyonya Irina, yang langsung mempersilakannya duduk pada sofa tunggal di samping brankar."Bagaiman
Magbasa pa