เข้าสู่ระบบFreyaa benar-benar tergelak renyah mendengar keposesifan Hvitserk yang sangat mirip dengan paman Felix dan paman Luca-nya, meski tentu saja dibawah posesif Didi tampannya, Luciano Sky.Tawa lepas dari bibir Freyaa tersebut membuat 'Sim-sim', sang ular hitam purba di pergelangan tangannya, seketika terpaku mematung selama beberapa detik karena terkejut.Freyaa akhirnya mulai bercerita mengalir tentang bagaimana Owen menyelamatkannya dari Nyaksimvol dan membawanya ke markas organisasi asasin kuno yang telah lama ditinggalkan Owen.Tanpa ada satu pun detail yang ditutupi, Freyaa mengungkapkan bahwa pimpinan tertinggi asasin yang membesarkannya, memiliki jaringan intelijen global yang berhasil mendeteksi pergerakan Syndicate menuju Desa Bova.Hvitserk akhirnya memandang Owen dengan tatapan yang sedikit melunak, meski sisa kekesalan masih membekas di wajahnya karena menganggap pria itu tidak becus mengurus Freyaa hingga menjadi kurus.Namun, jauh di lubuk hati terdalamnya, Hvitserk diam-dia
Hvitserk merasa sangat curiga akan 'pemuda dan pengawalnya' yang diceritakan Erika. Bisa jadi pemuda itu adalah pimpinan prajurit Syndicate yang menyamar. Sebab, tidak masuk akal jika seorang pemuda dan satu pengawal bisa menghancurkan satu batalion pasukan Syndicate yang terlatih militer.Erika sedikit mengerjap, menahan senyum geli di sudut bibirnya saat pandangannya menangkap sosok Freyaa yang ternyata sedang duduk santai di atas dahan pohon zaitun samping halaman, sambil mengunyah buah ara ungu yang baru saja dipetikkan Owen untuk gadis muda nan tampan itu.Ular hitam di pergelangan tangan kiri Freyaa berdesis dengan kepala tegak, terlihat sangat tertarik akan buah yang sedang di makan Tuannya itu, namun Freyaa pura-pura mengabaikannya. "Lyubimaya ..." Hvitserk sedikit menunduk, menatap dalam-dalam ke dalam netra Erika dengan raut serius, "Apakah... pemuda itu mengatakan sesuatu padamu?"Freyaa yang melihat Hvitserk mencengkeram kedua pundak Erika, meloncat turun dari dahan pohon.
Di benua yang berbeda, dalam sebuah ruang bawah tanah berbenteng baja tebal, suara desing peluru akhirnya mereda sepenuhnya.Hvitserk berdiri tegak di tengah ruangan. Napasnya memburu teratur dengan moncong senjata yang masih mengeluarkan sisa asap tipis. Di depannya, Alexander yang asli telah tersudut, bersimbah darah dengan tubuh ringsek yang tidak lagi berdaya.Setelah setahun penuh Hvitserk dan kelompok kecilnya memburu Alexander tanpa lelah, menembus barikade berbagai negara, Hvitserk akhirnya berhasil mengunci dan menyudutkan manusia iblis ini justru di Tel Aviv.Namun, alih-alih menunjukkan ketakutan akan kematiannya, Alexander justru menyeringai keji dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tatapannya penuh dengan racun kemenangan yang menjijikkan."Kau pikir... dengan membunuhku, kau akan hidup bahagia, Hvitserk? Hahahahaha ...!" Alexander tertawa hingga terbatuk-batuk gila, memuntahkan darah hitam dari tenggorokannya. Namun, tawa itu kian melengking parau."Kau akan menyesali semu
Pasukan Syndicate yang semula fokus menghitung mundur siap meletuskan peluru ke kepala warga, kini mendadak menegang.Suasana yang mencekam itu seketika pecah oleh teriakan-teriakan histeris satu per satu dari para prajurit yang berjaga di area garis pantai dan yang mengepung sekeliling rumah besar Erika.Dari balik semak-semak, rekahan batu kuno, serta sela-sela pohon zaitun dan lemon, berbagai macam ukuran dan jenis ular berbisa, merayap keluar. Mereka berdesis saling bersahutan, meluncur cepat bagai anak panah, hingga melompat menerkam tubuh-tubuh pria berseragam militer.Rentetan tembakan acak pecah berantakan di udara. Jeritan ketakutan warga pun meledak riuh. Sementara itu, ular-ular berbisa khas pegunungan Italia Selatan tersebut bergerak masif bagai ombak hitam yang terus merayap, membelit kaki para prajurit, dan menancapkan taring beracun mereka ke
Malam sudah turun dengan pekat. Pohon-pohon pinus di sekeliling hutan Virginia tampak seperti raksasa pemakan manusia dengan bayangan hitam yang menjulang tinggi dan menakutkan.Namun, di bawah kungkungan hawa dingin itu, Freyaa tetap fokus menyelesaikan sesi latihan fisiknya dengan gerakan yang brutal, cepat, dan efisien."Tuan Muda, Mister Elias ingin menemuimu," suara Owen memecah sunyi.Owen Rojas, mendekati Freyaa yang sontak menghentikan gerakannya saat hendak menaiki batang pohon besar di depannya. Freyaa mengangguk, ia mengikuti Owen berjalan masuk ke dalam rumah. "Beliau ada di ruang kerja bawah tanah," bisik Owen seraya menyodorkan sebuah tumbler berisi air minum yang sudah ia persiapkan sebelumnya untuk Freyaa.Freyaa menenggak air dalam tumbler dengan cepat, lalu melangkah lebih dulu menuju ruangan bawah tanah yang terisolasi. Tempat itu teramat rahasia. hanya Freyaa, Owen dan asisten pribadi Elias yang mengetahui keberadaan ruang kerja tersebut, sekaligus mereka memiliki
Nyonya Sofia menatap tajam pria berkacamata hitam yang masih mencekal lengan sang wanita tua, meskipun cengkaramannya sudah terlihat mengendur, "Tidak ada orang bernama Hvitserk atau Erika Marrins di desa ini!"Pria berkacamata itu mendengkus sinis. Dagu bergerak memberi kode pada anak buahnya yang berada di barisan belakang. Dua prajurit segera menarik paksa seorang gadis muda, mendorong tubuhnya hingga terhuyung-huyung ke tengah kerumunan.Sang pria berkacamata di depan Nyonya Sofia, dengan sigap menangkap tubuh gadis itu dengan kasar. Tangan besarnya tanpa sensor langsung meremas dada sang gadis hingga ia memekik kesakitan dan ketakutan."Katakan padaku, jalang kecil... di mana rumah Hvitserk dan Erika Marrins?" tanya pria itu dengan nada suara yang menjijikkan. Lengannya yang lain menyentak tubuh sang gadis agar menempel erat di depan dadanya."Jika kau berani berbohong sedetik saja ..." Pria itu melanjutkan lalu menoleh pada rekannya, yang langsung menodongkan moncong pistol berk
Charlotte tertawa kecil. "Saya belajar dari Anda, Dokter M." bisiknya rendah ke depan wajah Zetha yang semakin tersenyum lebar, "Kudengar, Anda hanya punya satu murid saat ini. Apakah Anda tertarik menambahkan nama saya sebagai yang kedua?"Zetha tergelak renyah, melirik suaminya dan Hvitserk yang
Kelopak mata Erika terbuka lebar, memandang takjub pada hamparan bunga matahari yang terbentang luas di hadapannya, seolah tak berujung.Bunga-bunga itu berdiri tinggi, hampir sebahu Erika dan semuanya menghadap ke satu arah yang sama, arah matahari condong ke barat.Erika melangkah lebih dulu, jem
Udara pagi di pedesaan Tuscany terasa jauh berbeda dari hiruk-pikuk Venice. Hvitserk menyewa sebuah villa bergaya kastil yang berdiri tenang di tengah perkebunan anggur.Hamparan kebun anggur membentang luas di sekeliling mereka, daun-daun anggur berkilau diterpa sinar matahari pagi, sementara gugu
Sejak sore, layar-layar televisi di berbagai sudut kota Roma menampilkan siaran darurat. Logo breaking news berkedip merah tanpa henti, disertai rekaman amatir dari warga yang memperlihatkan kepulan asap tebal membumbung dari apartemen usang di tengah kota.Suara sirene bercampur dengan teriakan pa







