Mag-log inErika Marrins, gadis cantik nan lugu yang datang ke Amalfi untuk mencari sahabatnya yang hilang setelah bekerja sebagai model di Mussolini Entertainment. Tetapi karena kecantikannya, Erika justru menjadi sasaran iri model senior, terutama Magdalena, yang merasa tersaingi hingga merendahkannya di sebuah butik. Namun di butik itu pula, di saat ia dihina dan gaunnya direbut oleh Magdalena, Erika bertemu Hvitserk, pria lembut yang membantunya dari manipulasi Magdalena. Pertemuan itu berlanjut menjadi kedekatan, hingga Erika jatuh cinta tanpa mengetahui jati diri Hvitserk yang merupakan satu-satunya pewaris pimpinan organisasi mafia Rusia. Kini, secara sukarela dan sadar Erika masuk ke dunia mafia yang gelap, dunia tempat Hvitserk berada, pria yang berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya. Tetapi, akankah Hvitserk bisa memenuhi janjinya pada Erika atau menjadi bumerang terhadap hubungan mereka berdua berada di ujung tanduk. Ingatkah Erika akan sahabatnya ketika mereka bertemu kembali dengan status yang berbeda?
view moreSejak Mussolini Entertainment, agensi tempatnya bekerja dihancurkan, Erika lebih banyak mengurung diri di apartemen mewah milik Hvitserk Drazen, pria yang pernah berjanji akan menjaganya.
Namun tiga bulan telah berlalu, mungkin lebih, Erika tak menghitungnya lagi dan Hvitserk tak pernah datang menemuinya. Tak ada pamit, tak ada kata perpisahan, terlebih lagi tak bisa dihubungi atau pun menghubunginya.
Erika hanya ingat kalimat terakhir yang diucapkan Hvitserk di malam mereka pulang terburu-buru dari pesta agensi, meninggalkannya di apartemen milik pria itu, “Kau aman di sini, aku akan kembali.”
Kalimat yang kini tak lagi Erika percaya sehingga ia bertekad memulai hidupnya dari awal lagi.
Tanpa Hvitserk!
Hari ini, Erika memutuskan mendatangi butik mewah milik Camille Desoutter, desainer idolanya yang pernah mengundangnya menjadi model. Kartu nama yang diberikan oleh Camille saat itu disimpan oleh Hvitserk, pun ponsel lama yang menyimpan nomor telpon sang designer telah dihancurkan oleh lelakinya tersebut.
"Aku harus bekerja. Menemukan Salbia dan mengirimkan uang untuk Ayah." gumam Erika mengangguk meyakinkan dirinya sendiri begitu keluar dari unit apartemen, lalu menghentikan taksi pergi menuju butik Camille Desoutter.
Salbia adalah satu-satunya sahabat Erika dari desa Bova. Tetapi sahabatnya itu menghilang dan tak seorang pun mengetahuinya atau cerita tentangnya di tutup rapat. Karena terakhir kali kabar dari Salbia ke Erika adalah saat ia masih bekerja di Agency Mussolini sebagai model.
Baru saja langkah kaki Erika memasuki area depan butik milik Camille Desoutter, tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dan ia pun refleks berteriak, langkah kaki pun terhuyung.
"Aowww ...!"
"Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" suara Magdalena terdengar manis namun penuh ejekan.
Magdalena memandang Erika, tajam, dipenuhi kebencian, “Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?” tanyanya sinis.
Cengkeraman jemari Magdalena pada rambut Erika semakin kuat, sementara Erika berusaha melepaskan diri namun kalah tenaga.
Magdalena adalah model senior di agensi Mussolini yang selalu iri pada Erika. Sedangkan Rudolf, mantan manajer Erika, yang selalu tunduk dan patuh pada Magdalena untuk merundungnya.
Rudolf, pria bertubuh tambun dan gemulai di sebelah Magdalena, tertawa mengejek memandang Erika, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah.
"Jika waktu itu pria Salvatore berhasil melindungimu, tapi tidak kali ini!" Magdalena berkata sinis, "Salvatore sudah muak dengan model pembohong sepertimu, bukan? Buktinya kau di sini, berpenampilan lusuh seperti benda usang yang dibuang!" pungkasnya sambil memperhatikan penampilan Erika.
Erika hanya mengenakan celana jeans dan baju kaos tidak ketat membungkus tubuhnya agar tidak terlalu menggoda siapa pun. Rambutnya juga sengaja ia gerai alami dan tas sandang rajut yang sebenarnya hadiah dari Hvitserk untuknya. Tas rajut yang tentu saja tak ada duanya di dunia dan harganya tidak main-main mahalnya.
"Lepaskan aku ..." Erika berusaha melepaskan jari jemari tangan Magdalena yang membuat kulit kepalanya perih dan sakit.
"Melepaskanmu?" Magdanela mengutip dan tertawa terbahak-bahak, tanpa diduga menghempaskan Erika yang berdiri kepayahan tak seimbang ke atas tanah.
"Ao!" Erika terpekik, tubuhnya terhempas sangat keras ke tanah bebatuan berpasir.
Tubuh Erika semakin gemetar ketika sepatu hak tinggi Magdalena menekan punggung tangannya lebih dalam. Nyeri merambat hingga ke syaraf tulang-tulang kecilnya.
Erika mengerang pelan, napasnya patah-patah. Ia tak berani mengangkat wajah, beberapa orang datang berkumpul seakan tertarik pada keributan yang diciptakan oleh Magdalena dan Rudolf.
"Lihat, sekarang kau berpura-pura lemah dan kesakitan! Tapi sebelumnya kau sangat berani mengganggu kekasihku, tertawa puas seolah dunia milikmu, huh!" Magdalena berkata lantang, memfitnah Erika agar menarik perhatian orang-orang yang mengelilingi mereka.
Beberapa mengeluarkan ponsel, ada yang berpaling pura-pura tak melihat tapi sebenarnya menyimak kejadian. Di Amalfi, gosip beredar lebih cepat dari angin laut. Dan hari ini, gosip menemukan Erika.
"A-aku tidak per-pernah mengganggu kekasihmu ...!" Erika membantah terbata-bata, memuntahkan cairan darah bercampur tanah dan pasir dari dalam mulutnya.
Magdalena berjongkok ke depan wajah Erika, menepuk pipi gadis itu seolah iba, lalu melirik ke arah Rudolf yang akhirnya menganggukkan kepala.
"Dia adalah model di Mussolini Entertainment. Tapi sejak agency Mussolini tutup, ia kehilangan pekerjaan. Namun siapa sangka, wajah cantiknya dia gunakan untuk menggoda kekasih dari sahabatku ini." ucap Rudolf ditanggapi reaksi Magdalena pura-pura mengusap sudut matanya seolah ada airmata kesedihan di sana.
"Kau ...berbohong!" geram Erika berusaha bangkit berdiri.
Tapi, baru saja Erika hendak berdiri, Magdalena memberikan tamparan keras ke pipi dan mendorong tubuhnya hingga terbang dan terjatuh beberapa langkah ke belakang.
Di saat bersamaan, Felix Salvatore, sahabat sekaligus majikan Hvitserk sudah tiga bulan melakukan pencarian terhadap Erika. Segala cara telah dilakukan oleh Felix demi menemukan Erika, tetapi semuanya nihil.
Felix berpikir, kehadiran Erika mungkin bisa menyelamatkan nyawa Hvitserk yang terbaring koma di rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, karena menyelamatkan dirinya dari tembakan anak buah Alfred Mussolini tiga bulan lalu.
Hari ini, Freyaa, keponakan kesayangan Felix mengajak jalan-jalan keluar, tanpa sengaja mereka mendengar suara pekikan kesakitan dari tengah kerumunan orang yang berkumpul di depan butik mewah, disusul tawa wanita dan gelengan kepala orang yang melihatnya berbisik-bisik samar.
Felix gegas meraih pinggang Freyaa untuk menggendong keponakannya itu, lalu berjalan dengan langkah besar menerobos kerumunan.
"Berhenti!" Felix berteriak lantang.
Netra Felix langsung tertumbuk pada tubuh wanita yang terbaring tertelungkup di atas tanah, wajahnya tak terlihat, rambutnya berantakan dan pakaiannya robek dimana-mana, sepertinya tertarik oleh kuku tajam. Bertolak belakang dengan wanita yang berdiri di sebelah sang wanita yang jatuh, terlihat tumit runcing sepatunya menginjak punggung tangan wanita yang tertelungkup di tanah.
"Tu-tu-tuaaan ..." sang wanita yang berdiri berkata tergagap begitu melihat kedatangan Felix menggendong Freyaa, berjalan semakin dekat ke arahnya.
Refleks Magdalena mengangkat kaki dari menginjak punggung tangan Erika yang belum puas ia lampiaskan kebenciannya.
Tentu saja, karena Magdalena sangat tahu pria tampan yang sekarang menatap dingin menghunjam ke arahnya tersebut.
Felix menurunkan Freyaa dari gendongan. Kemudian ia berjongkok, hendak menyibak rambut di depan wajah wanita yang berada di atas tanah, sangat ia yakini adalah Erika, kekasih dari sahabatnya.
"Maaf, ini urusan keluarga. Wanita ini adalah ..." Rudolf, pria yang berpenampilan wanita berjalan maju, berkata gemulai sambil menghalangi tangan Felix dari menyibak rambut Erika agar tak mengenali sang wanita di atas tanah yang sudah tak bergerak.
"Mundur!" Freyaa berkata dingin, mendorong tubuh bagian depan Rudolf yang berperut besar sedikit maju, namun sebenarnya gadis kecil itu baru saja menusukkan jarum di sela-sela jemarinya, tepat ke area kantung kemih.
Freyaa memang sudah sangat mahir memainkan jarum akupuntur dan menusuk titik pada tubuh manusia sesuai dengan suasana hatinya.
"Jorok! Sudah besar bukannya buang air pada tempatnya, malah di depan banyak orang seperti ini!" Freyaa berseru kencang sambil tertawa mengejek ke arah Rudolf yang kini bagian bawah tubuhnya telah basah dan berbau pesing.
Semua orang yang mengelilingi menggosok hidung masing-masing, perlahan membubarkan diri.
"Erika ..." panggil Felix pelan ke depan wajah wanita yang tertelungkup di tanah, sudah ia sibakkan rambutnya.
Bibir Erika pecah, wajahnya lebam dan rambut panjangnya terlihat berantakan seakan ada yang tercerabut dari kulit kepalanya.
Felix menempelkan telunjuk ke depan hidung Erika yang masih bernapas.
Tanpa menunggu lama, Felix gegas meraih tubuh Erika untuk ia bopong dan Freyaa juga gesit membantu pamannya itu, mengumpulkan isi tas sandang yang berserakan tak jauh dari Erika tadi tertelungkup.
Felix menoleh ke belakang, memanggil keponakannya, "Freyaa ..."
"Aku datang ..." Freyaa bangkit membawa tas Erika yang kini telah ia kembalikan isinya, berlari mengejar Felix.
"Awasi dua orang itu, biarkan nanti Hvitserk yang memberikan balasan ke mereka!" titah Felix pada Jose, anak buahnya yang juga bersahabat dengan Hvitserk.
Langkah kaki Magdalena terhuyung, bibirnya terkatup rapat begitu Felix mengangkat dan membopong tubuh Erika.
Firasatnya mengatakan, ia telah melakukan kesalahan. Kesalahan besar. Keluarga Salvatore bukan jenis orang yang bisa disinggung seperti angin lalu.
"Eh, Lena ...tunggu aku!" Rudolf berteriak memanggil Magdalena yang sudah buru-buru menjauh pergi.
Freyaa benar-benar tergelak renyah mendengar keposesifan Hvitserk yang sangat mirip dengan paman Felix dan paman Luca-nya, meski tentu saja dibawah posesif Didi tampannya, Luciano Sky.Tawa lepas dari bibir Freyaa tersebut membuat 'Sim-sim', sang ular hitam purba di pergelangan tangannya, seketika terpaku mematung selama beberapa detik karena terkejut.Freyaa akhirnya mulai bercerita mengalir tentang bagaimana Owen menyelamatkannya dari Nyaksimvol dan membawanya ke markas organisasi asasin kuno yang telah lama ditinggalkan Owen.Tanpa ada satu pun detail yang ditutupi, Freyaa mengungkapkan bahwa pimpinan tertinggi asasin yang membesarkannya, memiliki jaringan intelijen global yang berhasil mendeteksi pergerakan Syndicate menuju Desa Bova.Hvitserk akhirnya memandang Owen dengan tatapan yang sedikit melunak, meski sisa kekesalan masih membekas di wajahnya karena menganggap pria itu tidak becus mengurus Freyaa hingga menjadi kurus.Namun, jauh di lubuk hati terdalamnya, Hvitserk diam-dia
Hvitserk merasa sangat curiga akan 'pemuda dan pengawalnya' yang diceritakan Erika. Bisa jadi pemuda itu adalah pimpinan prajurit Syndicate yang menyamar. Sebab, tidak masuk akal jika seorang pemuda dan satu pengawal bisa menghancurkan satu batalion pasukan Syndicate yang terlatih militer.Erika sedikit mengerjap, menahan senyum geli di sudut bibirnya saat pandangannya menangkap sosok Freyaa yang ternyata sedang duduk santai di atas dahan pohon zaitun samping halaman, sambil mengunyah buah ara ungu yang baru saja dipetikkan Owen untuk gadis muda nan tampan itu.Ular hitam di pergelangan tangan kiri Freyaa berdesis dengan kepala tegak, terlihat sangat tertarik akan buah yang sedang di makan Tuannya itu, namun Freyaa pura-pura mengabaikannya. "Lyubimaya ..." Hvitserk sedikit menunduk, menatap dalam-dalam ke dalam netra Erika dengan raut serius, "Apakah... pemuda itu mengatakan sesuatu padamu?"Freyaa yang melihat Hvitserk mencengkeram kedua pundak Erika, meloncat turun dari dahan pohon.
Di benua yang berbeda, dalam sebuah ruang bawah tanah berbenteng baja tebal, suara desing peluru akhirnya mereda sepenuhnya.Hvitserk berdiri tegak di tengah ruangan. Napasnya memburu teratur dengan moncong senjata yang masih mengeluarkan sisa asap tipis. Di depannya, Alexander yang asli telah tersudut, bersimbah darah dengan tubuh ringsek yang tidak lagi berdaya.Setelah setahun penuh Hvitserk dan kelompok kecilnya memburu Alexander tanpa lelah, menembus barikade berbagai negara, Hvitserk akhirnya berhasil mengunci dan menyudutkan manusia iblis ini justru di Tel Aviv.Namun, alih-alih menunjukkan ketakutan akan kematiannya, Alexander justru menyeringai keji dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tatapannya penuh dengan racun kemenangan yang menjijikkan."Kau pikir... dengan membunuhku, kau akan hidup bahagia, Hvitserk? Hahahahaha ...!" Alexander tertawa hingga terbatuk-batuk gila, memuntahkan darah hitam dari tenggorokannya. Namun, tawa itu kian melengking parau."Kau akan menyesali semu
Pasukan Syndicate yang semula fokus menghitung mundur siap meletuskan peluru ke kepala warga, kini mendadak menegang.Suasana yang mencekam itu seketika pecah oleh teriakan-teriakan histeris satu per satu dari para prajurit yang berjaga di area garis pantai dan yang mengepung sekeliling rumah besar Erika.Dari balik semak-semak, rekahan batu kuno, serta sela-sela pohon zaitun dan lemon, berbagai macam ukuran dan jenis ular berbisa, merayap keluar. Mereka berdesis saling bersahutan, meluncur cepat bagai anak panah, hingga melompat menerkam tubuh-tubuh pria berseragam militer.Rentetan tembakan acak pecah berantakan di udara. Jeritan ketakutan warga pun meledak riuh. Sementara itu, ular-ular berbisa khas pegunungan Italia Selatan tersebut bergerak masif bagai ombak hitam yang terus merayap, membelit kaki para prajurit, dan menancapkan taring beracun mereka ke
Prosesi pernikahan Tuan Marrins dan Nyonya Lucia berlangsung khidmat di bawah langit senja desa Bova. Denting gelas dan tawa hangat memenuhi halaman rumah sederhana milik Ayah Erika.Seluruh warga datang dengan wajah ceria. Di desa kecil dengan penduduk yang tak lebih dari lima ratus jiwa itu, kebah
Salbia masih merengut pada Armando sejak semalam karena tidak memberitahunya jika suaminya diminta oleh Felix mencari Erika yang merupakan sahabatnya. "Aku benar-benar minta maaf." ucap Armando sambil membawa dua piring makanan dari meja buffet, mereka sedang sarapan pagi di hotel Palermo. "Aku s
Felix mendorong kursi roda Hvitserk mendekat ke arah Veronica dan keluarga besarnya. Zetha sempat melirik Dimitri Severe sekilas, mengulum bibir, lalu menyapa Hvitserk dan Erika."Bagaimana kabarmu? Terima kasih sudah membuat kejutan yang sangat indah." ucap Zetha sembari meraih dua gelas berisi mi
Setelah sarapan yang sekaligus menjadi makan siang karena waktu sarapan mereka terlewat begitu saja, akibat dari Erika yang kembali tertidur dengan tubuh lelah usai percintaan dahsyatnya bersama Hvitserk tadi pagi. Perkataan yang mengatakan sekali mencoba, bisa ketagihan, itu memang benar adanya.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore