"Saya mohon, Dok! Tolong..." Air mata Zahra kembali merembes di sudut matanya, jemarinya yang bergetar mencengkeram lengan baju sang dokter dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Suami saya... dia punya riwayat panik dan cemas berlebih kalau stres berat. Saya tahu kondisi saya, Dok. Saya yang akan bicara sendiri pelan-pelaaan sekali sama suami saya nanti.""Ibu Zahra, tenang dulu," potong dokter jaga itu, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Zahra dengan lembut. "Tapi Dokter Zulfa itu spesialis yang paling tepat untuk diobservasi sekarang, dan suami Ibu pasti berhak tahu perkembangan—""Tolong, Dok! Jangan di bilik ini, jangan sekarang di depan suami saya," sela Zahra setengah berbisik, napasnya memburu tertahan karena ketakutan yang teramat sangat. "Sampaikan ke Dokter Zulfa... temui saya di ruang rawat inap saja nanti, saat suami saya tidak ada. Saya mohon kerja samanya, Dok. Ini demi kebaikan suami saya."Dokter jaga itu mengembuskan napas berat, menatap perawat di sampingnya sebe
Read more