Sampai di Café Aurora, suasana terasa aneh. Parkiran sepi. Lampu-lampu redup.“Rayyan… bener ini cafenya?” Zahra ragu.“Iya kok, Bun. Papa Zean bilang jelas banget.”“Tapi kok sepi ya…”Mereka turun. Zahra menggandeng Zahwa sambil melangkah pelan. Tapi begitu pintu café dibuka, cling. lampu-lampu gantung menyala hangat. Dekorasi elegan dengan bunga putih, lilin di setiap meja, dan di ujung sana… sebuah meja panjang dihias romantis, lengkap dengan buket mawar.Di samping meja itu, Zean berdiri. Rapi dengan setelan hitam, tersenyum hangat. Saat melihat mereka, ia langsung menarik kursi dan memberi isyarat duduk.“Ya Allah…” Zahra menutup mulutnya, separuh tertawa, separuh kaget. “Zean… ini apa-apaan, sih? Aneh banget. Absurd!”Zean hanya tersenyum. “Duduk dulu, Za.”Dengan kikuk, Zahra duduk. Pandangannya masih berkeliling, belum bisa percaya. Anak-anak sudah menempati kursi di sampingnya, berbisik-bisik penuh semangat.Lalu, dari pintu belakang, muncul seorang wanita elegan membawa nam
Terakhir Diperbarui : 2025-12-31 Baca selengkapnya