"Mmm... barusan kok, Mas," ucap Zahra santai, sembari merapikan sedikit ujung jilbab instannya yang tertiup angin gang.Mendengar jawaban itu, Zean diam-diam mengembuskan napas lega yang amat panjang, meski ia menahannya sehalus mungkin agar tidak kentara. Jantungnya yang tadi sempat berdegup gila-gilaan kini berangsur normal. Ia benar-benar lega karena mengira Zahra tidak tahu dan tidak mendengar pertengkaran hebatnya dengan Melisa tadi."Terus... kamu... kamu kok ke sini, mau kemana? Eum... maksudnya mau ngapain? Bukannya tadi lagi masak ya?" tanya Zean berondong, masih menyisakan sedikit nada gugup di suaranya."Aku... mau itu, ambil COD," jawab Zahra, matanya melirik sekilas ke arah jalan raya di luar gang. "Tadi aku pesan beberapa bumbu dapur, tapi Mas kurirnya belum datang-datang. Apa kesasar ya? Makanya coba aku cari keluar gang.""Ooo..." Zean mangut-mangut, memercayai begitu saja alasan sang istri."Terus, kamu sendiri ngapain, Mas, berdiri di sini?" tanya Zahra balik. S
Baca selengkapnya