Vera mematikan mesin.Pintu utama sudah terbuka ketika mereka berjalan ke teras.Renata berdiri di ambangnya.Ia berpakaian rapi meski masih pagi; blus sutra lengan panjang berwarna krem dan celana palazzo hitam yang membuat ia terlihat seperti seseorang yang tidak mengenal konsep hari santai. Rambutnya diikat rendah di tengkuk, beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah dengan cara yang terlalu sempurna untuk disebut tidak disengaja.Matanya langsung ke Adit.Hanya sepersekian detik, tapi Vera melihatnya. Sesuatu di balik ekspresi Renata yang biasanya terkontrol sempurna bergerak, seperti permukaan air yang disentuh satu jari, sebelum kembali tenang."Sudah pulang," kata Renata. Bukan pertanyaan, bukan teguran. Hanya pernyataan yang membawa banyak hal di dalamnya tanpa menumpahkan satupun."Sudah," jawab Adit datar, menunggu dimarahi.“Ayo sarapan!” ajak Renata. Ia lekas berbalik dengan sikapnya yang datar. Padahal sebetulnya, dan sejujurnya, ia merasa senang Adit pulang. Ada rasa
Read more