Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Damian tidak menyentuh kopinya.Ia duduk di meja makan panjang mansion Lesmana, cangkir mengepul di hadapannya, sementara Vianna berdiri di tempat biasanya—di sisi kanannya, sedikit di belakang, posisi seorang asisten yang sempurna. Tapi pagi ini ada yang berbeda. Damian tidak lagi menunduk linglung seperti pria yang masih meraba-raba ingatannya yang hilang.Dan ia menatap Vianna. Lurus. Tepat ke matanya.Untuk sepersekian detik, Damian melihatnya—keterkejutan yang melintas di balik wajah tenang itu, secepat kilat sebelum hujan. Lalu senyum Vianna kembali, mulus seperti biasa.“Tuan tidak meminum kopinya,” katanya lembut. “Kubuatkan yang baru?”“Tidak perlu,” kata Damian. Ia mendorong cangkir itu ke tengah meja, pelan, sengaja. “Aku berhenti minum kopi, Vianna. Dokter bilang ada sesuatu di dalamnya yang tidak baik untuk… ingatanku.”
Read more