Selama tiga detik, tidak ada yang berubah.Lingkaran pria bersenjata masih mengepung mereka di halaman berkabut. Layar di dinding panti masih menampilkan wajah pucat Sandra. Suara Vianna masih menggantung di udara, menunggu jawaban Damian.Lalu, di kejauhan, terdengar sesuatu yang membelah malam: sirene. Tidak satu, tapi banyak—merambat naik di jalan menanjak, semakin dekat, semakin nyaring.Reaksi pertama datang dari para penjaga. Kepala mereka menoleh serempak, lingkaran yang tadi rapi mulai retak oleh keraguan. Salah satu dari mereka menempelkan jari ke earpiece, mendengarkan, lalu wajahnya mengeras.Di pengeras suara, nada Vianna goyah—setipis retakan di kaca, untuk kali pertama malam itu. “Apa yang—”Dan kemudian suaranya lenyap. Layar besar di dinding berkedip, gambar Sandra menghilang, digantikan butiran statis. Lampu-lampu yang tadi menyilaukan padam separuh. Seseorang, di suatu tempat, baru saja memutus kendal
Read more