Sirene darurat meraung dari perut vila, memantul di dinding-dinding lembap dan nyaris menelan suara napas mereka sendiri.“Bergerak. Sekarang.” Rafi tidak berteriak—ia mendesis, dan justru karena itu setiap orang patuh. Lampu sorot menyapu koridor di belakang mereka, memanjangkan bayangan menjadi raksasa.Damian menyangga Sandra dari satu sisi, Adrian dari sisi lain. Tubuh perempuan itu nyaris tanpa bobot, seringan daun kering yang terlalu lama disimpan dalam gelap. Kakinya berusaha melangkah, tetapi tiga tahun di atas ranjang membuat lututnya asing dengan lantai.“Tahan sebentar lagi,” bisik Adrian, suaranya pecah. “Aku menggendongmu sejak kecil. Sekali ini lagi, ya?”Mereka menembus dapur—bau disinfektan bercampur sup yang mendingin—lalu pintu servis yang sudah Rafi buka paksa. Udara Puncak menampar wajah mereka, basah dan setajam pisau. Di ujung jalan setapak di antara kebun teh, sebuah SUV gelap me
Read more