“Vyora memilih dia, bukan aku!” Noah membanting gelas birnya ke meja, suaranya serak dipenuhi amarah. Cairan cokelat itu tumpah melewati tepi, menggenang di permukaan kayu yang sudah penuh goresan di bar kumuh itu. Di sudut yang sedikit gelap, beberapa pengunjung melirik sekilas sebelum kembali mengobrol. Noah tidak peduli. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan wajahnya pucat, tanda dia tidak tidur berhari-hari.Di seberangnya, teman lamanya, Dito, hanya menggeleng. “Noah, kau udah gila atau bagaimana? Vyora itu sudah lama keluar dari hidupmu. Kenapa masih terjebak dengannya?"“Kau tidak mengerti!” bentak Noah, tangannya gemetar. “Dia tidak hanya meninggalkanku. Dia sekarang dengan Leo, Leonard Morgan! Kau tau dia siapa? Miliarder sombong yang ngerasa bisa merebut apa saja dariku, termasuk Vyora!”Dito menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi. “Bro, kau sendiri yang meninggalkan dia duluan. Kau selingkuh, kau buang dia. Sekarang kenapa mengejar lagi?”Noah mendengkus, matan
Read more