تسجيل الدخولGaun putih itu jatuh sempurna di tubuh Vyora, sehingga membentuk siluet anggun yang membuat seluruh ruangan seakan kehilangan suara. Jemarinya menggenggam buket bunga terlalu erat, sementara napasnya naik turun perlahan. Di depan cermin besar ruang rias, untuk sesaat ia melihat dirinya yang dulu, gadis yang pernah merasa tidak cukup dicintai, tidak cukup berharga, dan terlalu sering ditinggalkan. Namun, bayangan itu perlahan memudar. Karena hari ini, ia tidak lagi berdiri sebagai perempuan yang hancur. Ia berdiri sebagai Vyora Cessalie, perempuan yang berhasil melewati luka, pengkhianatan, dan badai panjang dalam hidupnya. Pintu ruang rias terbuka pelan.Grace masuk lebih dulu sambil tersenyum kecil. “Kalau kau terus menatap cermin seperti itu, Leo bisa pingsan menunggumu di luar.” Vyora tertawa pelan. “Aku hanya masih sulit percaya semua ini bukan mimpi.” Grace mendekat, merapikan sedikit ujung veil di bahunya. Tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Waktu telah mengik
[Ayahmu sakit. Kau tidak berkunjung?]Pesan itu dikirim Grace satu jam lalu.Vyora belum membalas. Ia hanya duduk diam di meja makan sambil menatap layar ponselnya tanpa benar-benar melihat.Leo keluar dari ruang kerja dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Begitu melihat wajah Vyora, langkahnya melambat.“Ada apa, Sayang?”Vyora mengangkat pandangannya perlahan. “Ayahku.”Leo langsung mengerti. Ia menarik kursi di samping Vyora lalu duduk tanpa banyak bicara.“Ada masalah lagi?”Vyora menggeleng kecil. “Grace bilang kondisinya memburuk.”“Aku pikir dia masih tinggal di rumah lama itu,” lanjut Vyora menundukkan kepala pelan. “Ternyata rumahnya sudah disita beberapa minggu lalu.”Tatapan Leo berubah lebih serius. “Dia tidak bilang apa-apa?”Vyora tertawa kecil hambar. “Kapan terakhir kali ayahku mau meminta bantuan?”Leo diam. Karena mereka sama-sama tahu jawabannya. Tidak pernah.Vyora menyandarkan tubuh ke kursi sambil memejamkan mata sebentar. Ia seharusnya marah.
Suara hujan terdengar memukul kaca jendela kantor Leo tanpa henti ketika tiba-tiba Wiliam melemparkan sebuah map tebal ke atas meja.“Kita sudah mendapatkan semuanya!"Leo yang sedang membaca dokumen langsung mengangkat kepala dengan tatapan tajam.Vyora yang duduk di sofa dekat jendela ikut menoleh. “Apa maksudmu semuanya?” Wiliam tersenyum lebar. Jarang sekali pria itu terlihat benar-benar puas seperti sekarang.“Rekening palsu. Jalur pencucian uang. Nama pejabat yang disuap Victor. Bahkan rekaman transaksi lama.” Ia bersandar santai. “Kali ini dia tidak bisa lari lagi.”Jantung Vyora langsung berdetak lebih cepat. Beberapa bulan terakhir terasa seperti badai yang tidak ada habisnya. Victor selalu berhasil lolos. Selalu punya celah. Bahkan selalu punya orang yang melindunginya. Namun, ternyata kali ini berbeda.Leo membuka salah satu berkas dengan ekspresi dingin. “Dari mana?”“Salah satu orang kepercayaannya membelot.” Wiliam menyeringai samar. “Rupanya Victor mulai panik dan memb
Leo tiba-tiba mengangkat dagu Vyora pelan supaya wanita itu menatapnya. “Dengar baik-baik. Aku tidak memilih Clarissa. Aku tidak memilih siapa pun selain kau.”Napas Vyora tertahan. “Bahkan kalau kerja sama bisnis ayahnya dipertaruhkan?” tanyanya ragu.Leo tertawa kecil, nyaris tidak percaya. “Sayang.” Tatapannya berubah lebih tajam. “Kau benar-benar berpikir aku akan mempertahankan kerja sama hanya demi menyenangkan perempuan yang tidak kucintai?”Vyora terdiam. Leo mendekat lagi sampai bibirnya hampir menyentuh telinga Vyora.“Aku bisa membangun bisnis lain.” Suara Leo terdengar berat. “Tapi aku tidak mau kehilanganmu.”Jantung Vyora langsung mencelos. Pria itu jarang bicara sejujur ini. Leo memang bukan tipe romantis yang pandai merangkai kata manis. Namun, justru karena itu, setiap kalimatnya selalu terasa nyata.Vyora menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas kecil. “Aku benci kalau kau membuatku luluh.”Leo tersenyum samar. “Tapi tetap luluh juga.”Vyora memukul dada pria
Gaun hitam yang dikenakan Vyora membentuk siluet tubuhnya dengan sempurna saat ia berdiri di samping Leo di ruang perjamuan hotel itu. Musik yang mengalun bercampur dengan suara gelas beradu dan percakapan para tamu penting yang memenuhi acara makan malam bisnis tersebut.Leo selalu tenang di kondisi apapun. Jas gelapnya rapi tanpa cela, serta wajah dinginnya membuat beberapa orang segan mendekat terlalu lama. Namun, tangan pria itu sesekali menyentuh punggung bawah Vyora secara halus, seolah memastikan wanita itu tetap berada di dekatnya.“Aku tidak menyangka acara dinasmu ternyata semewah ini,” gumam Vyora sambil menerima segelas sparkling water dari pelayan.Leo melirik sekilas. “Aku juga tidak menyangka kau mau ikut.”Vyora mendengkus pelan. “Kau sendiri yang memintaku datang.”“Aku kira kau akan menolak.” Sudut bibir Leo terangkat tipis. “Tapi aku senang kau datang."Tatapan beberapa wanita di sekitar langsung tertuju pada mereka. Vyora sudah terbiasa sekarang. Menjadi pasangan L
“Aku tadi melihatmu bersama Vanessa.”Vyora menyindir menggunakan nada yang terdengar datar saat dia meletakkan map di atas meja kerja Leo. Bahkan kedengarannya lebih dingin dari es di kutub Utara. Leo yang sedang membaca laporan langsung mengangkat pandangan. “Vanessa?”Vyora mengangguk kecil sambil pura-pura sibuk merapikan beberapa dokumen dengan gerakan tidak biasa. “Di lobby bawah. Kalian kelihatan dekat sekali.”Leo menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Dia hanya klien.”“Heum.”Jawaban pendek itu langsung membuat Leo menyipitkan mata.Sudah beberapa bulan bersama, dan Leo mulai mengenali setiap perubahan kecil dalam sikap Vyora. Cara gadis itu menghindari kontak mata. Cara jemarinya bergerak lebih cepat saat kesal. Cara bibirnya menegang ketika menahan sesuatu.Dan sekarang, semuanya terlihat jelas. Vyora cemburu. Lucunya, dia berusaha mati-matian menyembunyikannya.“Sayang,” panggil Leo pelan. “Lihat aku.”“Aku sedang kerja.”“Dan kau sedang mengabaikanku.”Vyora akhirnya mendonga
"Maaf, Pak Leo. Apakah Anda serius dengan permintaan itu?" Vyora melebarkan matanya syok. Napasnya hampir saja tercekat. "Aku tidak ingin bermain-main denganmu, Sayang." Leo memberikan senyum andalannya. Vyora menggeleng pelan, sangat tidak paham apapun. Bahkan tidak bisa berpikir jernih. "Tapi
Vyora mengerjapkan mata lalu melangkahkan kakinya dengan tatapan kosong. Vyora berjalan di koridor kantor, pikirannya masih berputar-putar mengenai percakapan dengan Leo di lift tadi. Vyora tidak menyangka bosnya memiliki sisi yang gelap dan mengerikan seperti itu. Selama ini Leo selalu terlihat
"Hei. Aku tidak menyangka kau bisa berbicara sekeras itu. Kau sangat keren," puji Grace dengan mata berbinar senang. Vyora mengembuskan napas panjang setelah duduk kembali. "Aku tidak ingin direndahkan lagi. Aku sudah muak." "Itu keputusan bagus. Aku akan percaya padamu, Vyora." "Terima kasih. K
Mobil Leo berhenti di depan sebuah hotel mewah. Lampu-lampu neon menyorot bangunan megah itu, sempat membuat Vyora terkesima sejenak. Namun, pandangannya sudah buram. Ia lupa memakai kaca matanya yang pasti tertinggal di bar tadi. Leo membantu Vyora turun dari mobil. Ia menuntun Vyora masuk ke dal







