Kata “sayang” terasa berbeda sekarang, bukan sekadar panggilan biasa, tapi seperti menyimpan janji akan sesuatu yang lebih. “Hei, kau tidak apa-apa?” Suara Leo memecah lamunan. Dia berdiri di ambang pintu, siluetnya tersorot cahaya dari lorong.“Aku bakal baik-baik saja, Pak Leo,” jawab Vyora sambil duduk dan merapikan rambut. “Hanya banyak pikiran.”Leo berjalan mendekat lalu duduk di samping Vyora. “Kau tidak harus hadapi semuanya sendiri. Aku di sini, ingat?”Vyora mengangguk, merasakan hangat kehadirannya. “Aku tahu dan aku berterima kasih, tapi aku tetap khawatir sama apa yang bakal terjadi suatu hari.”Leo menggenggam tangan Vyora, sentuhannya tegas tapi menenangkan. “Apapun itu, kita bisa hadapi bersama. Selama ada aku, kau akan baik-baik saja, Sayang.”Kantor berjalan seperti biasa, ritme sibuk yang sudah akrab—sampai tiba-tiba semuanya kacau. Layar-layar berkedip, alarm berbunyi, dan sistem langsung terkunci.“Apa-apaan ini?” Suara Noah terdengar tajam, matanya menyapu ruang
Read More