Sore itu di kampus, matahari masih terasa menyengat, menciptakan fatamorgana di atas aspal parkiran. Nayla, yang seharusnya segera pulang setelah konsultasi skripsi, justru merasa kakinya seberat timah. Dorongan dari dalam dirinya yang belum sepenuhnya reda, membuatnya tidak bisa memalingkan wajah dari pos keamanan utama. Di sana, Pak Satrio berdiri dengan gagah, seragam cokelatnya tampak ketat menonjolkan otot-otot dadanya yang keras.Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat santai, Nayla mendekat. "Aduh, panas sekali ya, Pak Satrio. Boleh saya numpang duduk sebentar di dalam pos? Sambil menunggu jemputan," tanya Nayla dengan suara lembut yang dibuat-buat.Pak Satrio, yang terkejut namun merasa tersanjung, segera membukakan pintu kecil pos tersebut. "Oh, silakan, Mbak Nayla. Di dalam ada kipas angin, lumayan untuk mendinginkan suhu."Mereka duduk berhadapan di ruangan sempit itu. Obrolan awalnya hanya seputar kegiatan kampus, namun Nayla dengan lihai mengarahkan pembi
Terakhir Diperbarui : 2025-12-28 Baca selengkapnya