Isla sadar saat meminta, ia paham risikonya. Bahkan saat ia menatap Kairos yang tertegun dengan tatapan berkabut gairah, selintas bayang wajah Adrian lewat begitu saja.Isla memejamkan mata untuk mengusir bayangan pria itu. Ia tidak ingin merusak keintiman gelap mereka oleh sosok Adrian yang bahkan tidak sedang memikirkannya.Lagipula, hanya pada Kairos-lah, ia sanggup meminta dan membiarkan gairah tidak biasanya meluap tanpa ditahan.Isla kembali fokus pada nafsu terpendamnya. Ia mulai menggeliat tak terkendali.Tatapan matanya yang liar menatap Kairos lekat-lekat. Bibirnya yang bengkak berbisik, bukan lagi dengan malu, melainkan dengan desakan putus asa yang primitif. “Ayo, Kairos … lakukan lewat belakang … lebih dalam … lebih kotor.”Kairos tertegun sesaat, napasnya tersengal. Permintaan itu lagi. Kali ini di telinganya, terdengar seperti jeritan jiwa yang ingin dibebaskan dari trauma.Dan tanpa berkata-kata, ia menarik diri.Dengan satu gerakan kuat, Kairos mengangkat tubuh Isla,
Read More