بيت / Romansa / Presiden BEM Itu Kekasihku / BAB XVI : Between two

مشاركة

BAB XVI : Between two

مؤلف: Essenick
last update تاريخ النشر: 2025-12-10 00:31:00

Beberapa menit berlalu dalam hening yang nyaman. Hanya suara median dan lagu dari radio yang mengisi ruang di antara mereka. Dila mulai bisa bernapas lega, sepertinya Vero sudah tidak menyinggung soal lukanya lagi.

Begitu mobil memasuki area kampus, Vero memperlambat laju kendaraan. “Nanti makan siang pakai apa?” tanyanya tiba-tiba, nada suaranya santai tapi penuh perhatian.

Dila melirik, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Gak tau,” jawabnya singkat.

Vero mengangkat alis, lalu tersenyu
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXI : D-DAY

    Matahari meninggi seperti seharusnya.Dila bangun sebelum alarm, lebih karena suara langkah kaki seseorang di dapur daripada kesiapan tubuhnya sendiri. Rumah yang biasanya sepi menjadi sedikit menakutkan jika laki-laki itu menemukannya.Benar. Dia seharusnya tidak pernah pulang. Ia tidak langsung bangun. Napasnya ditahan, telinga menangkap suara gelas diletakkan terlalu keras, kursi yang ditarik tanpa sabar. Bau kopi pahit merayap masuk ke kamar, membawa serta perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.Ponselnya bergetar di atas kasur.Pesan dari nama kontak Daren. “Kelas jam berapa?”Alih alih membalas, Dila justru meletakkan ponsel itu kembali. Ia bergeser pelan, meringkuk di sisi ranjang dekat nakas, menahan suara apa pun yang bisa mengkhianatinya. Seolah dengan diam, ia bisa membuat dirinya tak terlihat.Langkah kaki itu mendekat.Berhenti tepat di depan pintu kamarnya.Dila menutup mata.Beberapa detik terasa seperti menit. Pegan

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXX : NEW

    “Kamu udah pulang? Saya pengen ketemu sebentar.”Dila menatap layar ponsel itu lama, sampai lampunya meredup sendiri. Ia menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri.“Iya Mas, udah di rumah” balasnya akhirnya.Dila berakhir duduk di ruang tamu menunggu suara mobil yang menyenangkan. Tak sampai lima menit, bunyi mobil yang familiar berhenti di depan pagar. Dila meraih jaket tipis, menyampirkan asal, lalu keluar rumah tanpa benar-benar menyiapkan diri.Vero berdiri di luar pagar dengan senyum yang selalu berhasil membuat Dila lupa setengah dari masalahnya. Rambutnya rapi, kemeja sampai siku, wangi sabun bercampur tipis menyapa sebelum kata apapun keluar.“Ganggu istirahat kamu ya?” tanyanya, nada suaranya lembut, nyaris hati-hati.Dila menggeleng. “Enggak. Masuk aja.”Mereka duduk di teras. Jaraknya cukup dekat untuk saling dengar napas, cukup jauh untuk pura-pura aman. Vero memainkan kunci motornya, memutar-mutarnya di jari, seolah sedang mencari

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIX : BIAS

    Daren berhenti tepat di depan rumah Dila. Rem motor berdecit kecil, menahan dua manusia yang sama-sama keras kepala. Dila turun duluan tanpa bilang terima kasih, langsung membenarkan tasnya. “Besok gue ambil shift pagi gantiin Mas je” kata Daren sambil melepas helm dan mengibaskan rambutnya asal. “Lo ada kelas gak besok? Ganti shift aja biar tetep bisa bareng gue.” Dila menggeleng lemah, wajahnya santai tapi matanya waspada. “Nggak Ren, gue besok mau ketemu Mas Vero” Daren langsung mendengus, rahangnya mengeras. “Vero mulu otak lo!” Dila tersenyum kecil. Bukan senyum manis, lebih ke senyum yang sengaja di pamerkan. “Charger diri lah” Daren terdiam sesaat, lalu terkekeh pendek, meski matanya tak ikut tertawa. “Hati-hati aja, La.” “Hati-hati kenapa?” “Makin tinggi terbang, nanti jatuhnya makin sakit” Ucapan itu keluar terlalu serius untuk candaan. Dila menahan napas sepersekian detik, lalu

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXVIII : ANTARA

    Dila menatap layar laptopnya lama. Terlalu lama untuk sekedar satu pesa, terlalu singkat untuk menyiapkan diri. jarinya gemetar saat akhirnya berani membaca kalimat itu. Tidak panjang, tidak juga bernada keras, tapi cukup untuk membuat napasnya tertahan. Nama pengirimnya saja sudah lebih dulu merobohkan pertahanannya. Ia mematikan layar sebelum sempat membaca ulang. Ponsel itu ia selipkan kembali ke saku celemek, mengabaikan apa yang ditampilkan di layarnya. “La, gue mau kencan, saran outfit” Suara Daren muncul tiba-tiba, memaksa pikirannya berbelok. Dila menoleh dan mendapati Daren berdiri di depannya sambil membawa tiga kaus yang nyaris sama, hanya berbeda warna. “outfit apaan maksud lo,” marah Dila. Nadanya sudah meninggi kesal, “Kaos semua gini, mau kencan apa mau ronda?!” Daren mengerut, kesal dengan penuturan Dila yang menurutnya menyebalkan dan terkesan tidak mengizinkan dia untuk kencan ini. “Lo kalau cemburu bilang aja La,” ujarnya ketus. “Ini namanya cowok apa adanya!

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXVII : RETAK

    Dila diam. Suara di lorong mendadak terasa jauh, seolah disaring tembok tebal. Tatapannya turun ke kotak bekal di pangkuan Vero, lalu naik ke wajah laki-laki itu. Ada lelah di sana, tapi juga sesuatu yang tak bisa ia tebak. “Mau balikin ini,” ujar Vero akhirnya, tangannya mengulurkan kotak bekal milik Dila. Dila menerimanya tanpa banyak ekspresi. Jemarinya menutup rapat pengait kotak itu, lalu ia mengangguk singkat. Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Bukan karena ia marah, melainkan karena Daren, anak menyebalkan itu, sudah menunggu lama di bawah. Baru kali ini Dila harus mengabaikan lelaki tampan di hadapannya. “Dila.” Langkahnya terhenti. Si empu nama pun menoleh sebagai respons kecil. “Kamu marah?” tanya Vero, suaranya terdengar hati-hati. Dila menarik napas, menahan jawabannya sejenak. Ada rasa aneh menyusup terlalu bahagia karena ia merasa Vero mulai peduli. “Eng…” “Dila mana?!” Teriakan suara yang familiar memotong kalimatnya. Daren. Nada itu jelas tak sabar, dan pert

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXVI : Hilang Kata

    Dunia tetap berjalan seperti semestinya, seolah tak peduli pada apa pun yang pelan-pelan runtuh di hidup Dila. Ia memilih tidak pulang selama beberapa hari ini, menghindari ayahnya. Gaji kecil yang ia miliki digunakan untuk menyewa rumah petak dekat tempat kerjanya, cukup untuk berteduh dan bertahan hidup.Hari-harinya berjalan seperti biasa. Setidaknya, seperti itu yang ia paksa agar terlihat. Dila tetap memasak, tetap menyiapkan makanan untuk Vero, meski hubungan mereka tak lagi sama.Vero menjauh.Ia tak lagi datang ke kafe tempat Dila bekerja. Tak ada pesan singkat yang menanyakan jam pulang. Tak ada obrolan ringan di sela malam. Tidak ada pertengkaran, tidak ada penjelasan. Semua memburuk begitu saja, seiring hari-hari yang lewat tanpa suara.Bahkan untuk acara yang akan diadakan beberapa hari lagi, Dila tak pernah tahu rencana Vero di sie sponsorship. Namanya ada, posisinya jelas, tapi keberadaannya seperti sengaja dihapus dari percakapan.Siang itu, Dila tetap datang ke kampus.

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIII : Silent Liability

    ‘Ardila, lo kejerat hutang apaan, La?! Ada orang hubungi ketua Himpunan nagih hutang lo.’ Sendok terlepas dari tangannya. Bunyinya kecil. Tapi di telinga Dila, itu terdengar seperti sesuatu yang runtuh. Nyaring. Memalukan. Dan tak bisa ditarik kembali. Dunia Dila berhenti. Kata hutang berput

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXII : Hidden Hurts

    Hari semakin siang. Matahari naik perlahan, cahayanya menembus cela jendela yang sudah lama jarang dibuka. Dila selesai membersihkan rumah. Lantainya bersih, meja rapi, seolah keadaan ini telah menutupi kehancurannya semalam.Di kamar mandi, ia duduk di lantai dingin. Kotak P3K terb

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXV : Jealous

    “Butuh kerjaan nggak, gue ada nih”Kalimat itu melintas begitu sajam tapi justru membuat kepala Dila semakin riuh. Ia menoleh sekilas, lalu kembali menatap meja. Semua pikirannya berputar tanpa arah. Semua saling betumpang tindih. Berantakan. Menyebalkan.Daren tidak mendesak. Tidak mengulang. Ia h

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIV : Sunyi yang Tidak Mencari Saksi

    Gedung sekretariat masih menyala ketika Dila tiba. Lampunya temaram, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara kursi digeser dan langkah kaki yang ia kenal.“Kok lama?” suara itu menyapa santai. “Gue kira gak jadi.”Dila mengangkat bahu. “Motoran macet.”Ia duduk tanpa diminta. Meletakk

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status