Bab 43. Hal MengejutkanBu Ida tertunduk malu. Dia tak bisa berkata-kata membela diri lagi. Sementara Pak RT juga terlihat serba salah."Sebaiknya kalian pulang. Saya masih banyak urusan," kataku sembari hendak melangkah masuk. Namun, secara mengejutkan Bu Ida tiba-tiba berlari dan memeluk kakiku. "Anjani, tolong ibu! Cuma kamu yang bisa bantu ibu," katanya dengan berurai air mata. "Ibu tau kamu benci Dea, karena dia anaknya Rendy dan Mira, tapi ibu mohon tolong kami. Dea harus segera mendapatkan pengobatan, Anjani.""Bu Ida, tolong jangan bersikap seperti ini!" kataku sedikit keras sambil meraih lengannya agar Bu Ida berdiri segera. "Jangan menghiba seperti ini, Bu. Saya bukan Tuhan. Saya, kan sudah bilang, Dea bisa berobat dengan BPJS.""Ibu merasa berobat dengan BPJS itu tidak maksimal, Anjani. Penyakit Dea sudah lumayan parah karena terlambat ditangani. Ibu mohon bantu Dea, Anjani.""Maaf, Bu. Saya, nggak bisa. Tolong setelah ini jangan cari saya lagi." Aku langsung masuk ke dal
Terakhir Diperbarui : 2025-12-21 Baca selengkapnya