**“Gak mau. Kita makan bareng!”“Emm, saya jadi ngerasa tidak enak, Miss.”“Dienak-enakin saja-lah. Pokoknya kita makan bareng.”Aku mengusap-usap rambut di bagian belakang kepalaku. Aku berpikir keras, mencari skenario lain supaya Miss Widya tidak jadi ikut makan dan kembali saja ke kamarnya sana.Akan tetapi, rupanya ia telah mantap dengan keinginannya makan bersamaku di sini.Ia juga cukup tahu diri dengan peran atau kontribusinya. Aku yang memasak, maka dia sekarang yang menyiapkan piring-piring, gelas, sendok dan garpu.Semua perlangkapan makan itu ia tata di atas meja, di sini, di dapur, bukan meja di ruang makan sana.“Makan malam-malam begini, Miss tidak takut gemuk?” Tanyaku, dengan maksud tersembunyi, yaitu Miss Widya tidak ikut makan.Alasanku keberatan sangat masuk akal. Karena porsi yang aku masak ini, ya untuk diriku saja. Untuk satu orang, bukan dua.
Last Updated : 2025-12-19 Read more