Derap langkah terdengar tergesa-tergesa, di puncak bukit langkah itu mulai melambat. Dua sosok yang tadinya berlari berhenti sejenak, mereka menoleh ke belakang. Di kejauhan sana kobaran api yang sangat besar melahap nyaris seperti lautan api yang mengamuk. Mereka dapat mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar manusia biasa, teriakan kesakitan yang parau, suara desisan kobaran api bahkan teriakan putus asa diantara bunyi desing senjata tajam. “Sialan! mereka benar-benar tidak melepaskan seorangpun.!” Seru salah satu sosok. Napasnya terengah-engah, di sebelahnya sosok lainnya menatap nanar pada tempat kobaran api di bawah sana, di pelukannya sesosok anak kecil menggeliat gelisah dan terbangun dari tidurnya. “Api! Ayah, ibu. Di sana apinya besar sekali.” Si anak berteriak kaget melihat pemandangan itu. Sosok yang di panggil ibu hanya tersenyum tipis, ia mengelus lembut rambut si kecil dengan sayang. “Tidak apa-apa, kita jauh dari api.” Si kecil mengerjapkan matanya bingung,
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-04 Mehr lesen