Bahkan dia sampai menutup mata, ekspresinya seperti hendak mencium gadis muda yang cantik.Tepat saat itu.Nazar hampir saja memakan Teratai Emas Sembilan Daun, tiba-tiba Ewan berteriak, "Tua bangka, hati-hati!"Nazar membuka mata, lalu tersenyum pada Ewan, "Bocah, kenapa, kamu juga mau mencicipi? Maaf, teratai ini sudah jadi milikku. Kamu cuma bisa iri saja."Ewan berkata, "Tua bangka, ada bahaya.""Kamu kira aku percaya?" Nazar sama sekali tidak percaya, sambil tersenyum dia berkata, "Pokoknya aku nggak mungkin memberikan Teratai Emas Sembilan Daun ini padamu. Aku masih ingin menggunakannya untuk menjadi kultivator abadi."Setelah berkata demikian, dia kembali menutup mata, bersiap memakan teratai itu.Namun, tiba-tiba terjadi perubahan. Sekonyong-konyong, kekuatan besar meledak dari belakang Nazar.Boom!Saat itu pikirannya hanya tertuju pada teratai dan sama sekali tidak waspada. Ketika dia menyadari bahaya, semuanya sudah terlambat.Plak!Punggungnya terkena hantaman keras. Tubuh
Read more