Keesokan harinya, kami berempat—aku, Mas Edgar, Mas Rendra dan Mas Baskara—duduk di ruang konsultasi dokter. Dr. Wijaya, seorang dokter senior dengan wajah teduh, menatap kami dengan sabar. "Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya," Dr. Wijaya memulai, "kondisi Ibu sangat kritis. Fungsi otaknya sudah sangat menurun, dan kemungkinan untuk pulih sangat kecil." Aku menggenggam erat tangan Mas Edgar, mencoba menahan air mata. "Tapi, Dok, jantung Ibuk masih berdetak. Itu berarti masih ada harapan, kan?" Dr. Wijaya menghela napas. "Betul, jantung Ibu masih berdetak karena alat pacu jantung. Tapi, alat itu hanya membantu memompa darah. Tidak ada hubungannya dengan fungsi otak." Mas Rendra menyela, "Jadi, Dok, apa artinya alat-alat ini hanya memperpanjang penderitaan Ibu?" Dr. Wijaya menatap Mas Rendra dengan tatapan serius. "Saya tidak bisa mengatakan itu dengan pasti. Tapi, dengan kondisi Ibu saat ini, alat-alat ini hanya mempertahankan fungsi vitalnya secara
Última actualización : 2025-11-29 Leer más