“Bagaimana kabar istri dan anakku?”Suara lembut Kaiden berembus masuk ke telinga Anna, membuyarkannya dari lamunan panjangnya. Anna menoleh dan Kaiden menghadiahkan sebuah kecupan manis di pelipisnya.“Apa yang kau lakukan di sini? Anginnya kencang, tidak baik untuk kesehatanmu.”“Hanya menikmati langit senja,” jawab Anna, berdiri dan menatap Kaiden yang tampak kuyu dan kotor. Ia mengusap keringat di pelipis Kaiden, lalu tangannya berhenti di pundak pria itu.Kaiden menatapnya dengan kening berkerut samar. Angin sore berembus menerpa tubuh keduanya. Anna menatap ke dalam sepasang mata Kaiden, memperhatikan sinar senja yang terjebak di sana, menciptakan kilau hangat di iris gelapnya. Tetapi entah kenapa, hatinya malah terasa pedih. Menyadari perubahan ekspresi Anna yang muram, Kaiden membelai lembut pipi istrinya. “Apa yang sedang kau pikirkan? Kau sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu.”Anna mencoba untuk tersenyum, tetapi gagal. “Aku mengkhawatirkanmu,” bisiknya.“Aku?” Kaide
Read more