Keheningan yang mengikuti kembalinya Luca terasa lebih pekat daripada aura emas Tetua Hu. Di tengah arena yang hancur, di bawah tatapan teman-teman dan rival mereka yang terdiam, Luca dan Seraphina berdiri dalam pelukan yang sunyi, sebuah jangkar ketenangan di tengah badai yang baru saja reda.Perlahan, sangat perlahan, mereka melepaskan pelukan mereka, menyadari bahwa semua orang sedang menatap. Suasananya sangat canggung. Luca bisa merasakan pipinya sedikit menghangat, sementara Seraphina tidak berani mengangkat wajahnya, memilih untuk bersembunyi sedikit di belakang punggung Luca.Dari seberang arena, di antara tumpukan reruntuhan, Tetua Hu perlahan bangkit, dibantu oleh Evangeline. Ia terbatuk pelan, menyeka sedikit darah dari sudut bibirnya. Ia menatap Luca, dan di matanya yang bijaksana, tidak ada lagi kemarahan atau niat bertarung. Yang ada hanyalah campuran yang rumit antara rasa takut, kekaguman yang luar biasa, dan rasa ingin tahu seorang sarjana yang baru saja menemukan seb
Read more